Table of Contents
Lipstick Effect dan Affordable Luxury: Mengapa Konsumen Tetap Berbelanja Saat Ekonomi Sulit?
Ada masa ketika seseorang mulai menahan belanja besar. Televisi baru bisa menunggu. Perabot rumah belum perlu diganti. Liburan juga mungkin ditunda.
Namun, bukan berarti semua keinginan untuk menikmati sesuatu ikut hilang.
Secangkir kopi yang terasa istimewa, parfum, kosmetik, makanan favorit, atau produk perawatan diri masih bisa masuk daftar belanja. Nilainya memang lebih kecil dibandingkan barang mahal, tetapi mampu memberikan pengalaman yang dianggap menyenangkan.
Fenomena semacam ini sering dikaitkan dengan istilah lipstick effect. Di sisi lain, ada istilah affordable luxury yang juga berbicara tentang konsumsi kemewahan dalam batas harga tertentu.
Keduanya terdengar mirip. Padahal, lipstick effect dan affordable luxury berada pada ranah yang berbeda.
Lipstick Effect Berbicara tentang Perilaku Konsumen
Lipstick effect merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kecenderungan konsumen tetap membeli produk tertentu yang relatif terjangkau ketika kondisi ekonomi sedang sulit atau penuh ketidakpastian.
Gagasannya sederhana. Ketika konsumen merasa perlu mengurangi pengeluaran besar, sebagian pengeluaran dapat dialihkan ke barang yang lebih kecil tetapi tetap memberikan kepuasan.
Penelitian terhadap data pengeluaran konsumen selama Great Recession menemukan peningkatan rata-rata pengeluaran kosmetik pada perempuan berusia 18–40 tahun. Penelitian tersebut juga menemukan adanya pergeseran pengeluaran dari pakaian menuju kosmetik.
Namun, fenomena ini tidak boleh dipahami sebagai aturan bahwa setiap kali ekonomi memburuk, penjualan lipstik pasti meningkat.
Penelitian lain yang menggunakan data penjualan lipstik di Amerika Serikat periode 2006–2016 menemukan adanya perubahan elastisitas pendapatan lipstik selama resesi 2007–2009, yang mendukung keberadaan lipstick effect.
Artinya, lipstick effect lebih tepat dipahami sebagai fenomena perilaku konsumen yang dapat muncul dalam kondisi tertentu, bukan sebagai rumus ekonomi yang selalu menghasilkan pola sama.
Affordable Luxury Berbicara tentang Produk
Affordable luxury memiliki titik perhatian berbeda.
Istilah ini merujuk pada produk yang menawarkan sebagian karakter kemewahan, seperti kualitas, desain, pengalaman, atau citra premium, tetapi dengan harga yang lebih mudah dijangkau dibandingkan barang mewah kelas atas.
Seseorang tidak harus sedang mengalami tekanan ekonomi untuk membeli produk affordable luxury.
Ia bisa memilih parfum premium dengan harga yang masih masuk akal, tas dengan desain eksklusif, makanan dengan pengalaman berbeda, atau produk lokal yang memberikan kesan lebih istimewa.
Karena itu, affordable luxury lebih tepat digunakan untuk menjelaskan jenis penawaran produk dan nilai yang dirasakan konsumen.
Sedangkan lipstick effect menjelaskan perubahan atau kecenderungan perilaku konsumsi.
Mengapa Keduanya Sering Dianggap Sama?
Keduanya memiliki titik pertemuan karena produk affordable luxury dapat menjadi salah satu bentuk pengeluaran kecil yang dipilih konsumen ketika mereka ingin tetap menikmati sesuatu di tengah tekanan ekonomi.
Penelitian kualitatif yang diterbitkan pada 2025 bahkan menemukan bahwa konsumen dalam kondisi ekonomi menurun tidak hanya mengonsumsi kemewahan dalam bentuk kosmetik. Mereka juga mencari kemewahan yang terjangkau untuk memperoleh pengalaman, kesejahteraan emosional, serta manfaat fungsional seperti daya tahan produk.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa istilah lipstick effect tidak selalu cukup untuk menjelaskan seluruh perilaku konsumsi kemewahan dalam kondisi sulit.
Jadi, seseorang bisa mengalami pola konsumsi yang berkaitan dengan lipstick effect tanpa membeli produk yang benar-benar masuk kategori affordable luxury.
Sebaliknya, seseorang bisa membeli affordable luxury ketika kondisi ekonominya baik.
Perbedaannya terletak pada pertanyaan yang hendak dijawab.
Lipstick effect menjawab: mengapa pola belanja tertentu dapat bertahan ketika kondisi ekonomi menekan?
Affordable luxury menjawab: produk seperti apa yang menawarkan pengalaman atau nilai premium dengan harga yang lebih terjangkau?
Bukan Sekadar Soal Lipstik
Nama lipstick effect memang membuat fenomena ini seolah hanya berkaitan dengan kosmetik.
Padahal, gagasan yang lebih luas adalah konsumen mencari bentuk kesenangan atau nilai yang relatif lebih kecil ketika pengeluaran besar mulai terasa berat.
Produk kecantikan hanyalah salah satu contoh.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa berbeda-beda. Ada yang memilih kopi premium, makanan tertentu, parfum, produk perawatan diri, aksesori, atau barang kecil yang memberikan pengalaman menyenangkan.
Tetapi perilaku setiap konsumen tentu tidak sama.
Riset NielsenIQ pada 2022, misalnya, menemukan bahwa konsumen berpendapatan paling rendah justru mengurangi pengeluaran untuk produk kecantikan ketika menghadapi kenaikan biaya hidup. Ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak otomatis membuat semua kelompok konsumen membeli lebih banyak produk kecil atau premium.
Kondisi ekonomi, tingkat pendapatan, harga, kebutuhan, dan persepsi terhadap nilai produk tetap berperan.
Peluang bagi UMKM
Bagi pelaku UMKM, pembahasan ini memberikan satu pelajaran penting.
Konsumen yang lebih berhati-hati bukan berarti konsumen berhenti membeli.
Mereka bisa menjadi lebih selektif dalam menentukan alasan untuk membeli.
Karena itu, persaingan tidak selalu harus diarahkan pada harga paling murah.
Produk yang memberikan kualitas baik, pengalaman menyenangkan, pelayanan hangat, kemasan yang pantas, dan cerita yang relevan dapat memiliki nilai lebih di mata konsumen.
Namun, nilai tersebut harus tetap masuk akal.
Jangan menjual kesan mewah dengan kualitas yang tidak sepadan. Jangan pula menggunakan istilah premium hanya untuk membenarkan harga yang lebih tinggi.
Konsumen semakin membutuhkan alasan yang jelas sebelum mengeluarkan uang.
Bagi UMKM, pertanyaannya bukan sekadar, “Bagaimana membuat produk terlihat mahal?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang membuat konsumen merasa uang yang dikeluarkan memang sepadan?”
Apa yang Bisa Dipelajari Konsumen dan Pelaku Usaha?
Bagi konsumen, memahami lipstick effect membantu mengenali bahwa keputusan belanja tidak selalu murni soal kebutuhan.
Ada faktor emosi, kebiasaan, pengalaman, identitas, dan kondisi ekonomi yang ikut memengaruhi keputusan.
Karena itu, keinginan membeli sesuatu tetap perlu dibedakan dari kemampuan membelinya.
Bagi pelaku usaha, affordable luxury membuka ruang untuk menawarkan nilai lebih tanpa harus masuk ke pasar barang mewah.
Kualitas, fungsi, desain, cerita produk, pelayanan, dan pengalaman pelanggan dapat menjadi bagian dari nilai tersebut.
Yang penting, semua harus dibangun secara jujur.
Dari Istilah Ekonomi Menjadi Pelajaran Bisnis
Lipstick effect dan affordable luxury pada akhirnya membantu menjelaskan satu sisi menarik dari perilaku manusia.
Ketika kondisi ekonomi berubah, keinginan untuk menikmati hidup tidak selalu menghilang. Yang dapat berubah adalah cara seseorang memenuhi keinginan tersebut.
Namun, fenomenanya tidak berlaku sama bagi semua orang.
Di situlah pentingnya memahami konsumen secara lebih manusiawi.
Bagi pembeli, kemewahan kecil tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial.
Bagi pelaku UMKM, peluangnya bukan sekadar menjual barang murah atau membuat produk tampak mewah.
Peluangnya adalah menciptakan sesuatu yang benar-benar terasa bernilai.
Sebab ketika uang mulai dihitung lebih hati-hati, konsumen bukan hanya bertanya tentang harga.
Mereka juga bertanya dalam hati:
“Kalau uang ini saya keluarkan, apa yang saya dapatkan kembali?”
Posting Komentar