Table of Contents
Ketukan dibalik layar gelap
BAB 2: Pagi yang Rata dengan Tanah
Mentari pagi tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kontrakan petak yang dihimpit tembok-tembok tinggi rumah permanen di sekitarnya. Cahaya yang sampai ke teras Raka hanyalah bias pucat yang memantul dari genangan air sisa hujan semalam. Di atas meja plastik kecil, ponsel jadul berdering nyaring, memecah pagi dengan suara robotik yang membacakan pesan masuk: “Pesan dari Bu RT. Pengambilan jatah beras bansos gelombang kedua di aula kelurahan dibuka jam delapan pagi ini. Harap membawa KTP dan kartu keluarga.”
Maya, yang sedang membilas beberapa helai pakaian di ember plastik di dekat pintu, menghentikan gerakannya. Ia mengusap busa sabun di tangannya ke celana training kumal yang ia pakai, lalu menoleh ke arah Raka yang baru saja keluar dari bilik tidur sambil meraba dinding.
"Mas, barusan ada pesan suara dari grup warga," kata Maya dengan nada ragu. "Katanya hari ini pembagian beras bansos. Kita disuruh datang ke kelurahan."
Raka merapikan kerah kemejanya yang sudah mulai pudar warnanya. Ia mengangguk pelan, meskipun ada rasa sangsi yang mengganjal di dadanya. "Ya sudah, nanti kita coba datang, May. Siapa tahu kali ini datanya benar-benar sudah masuk sistem. Lumayan buat stok beras seminggu ke depan. Kasihan Arga kalau kita harus terus-terusan beli eceran warung."
Pukul setengah delapan pagi, ketiganya berjalan kaki menyusuri jalan kampung menuju kantor kelurahan yang berjarak sekitar satu kilometer. Arga berjalan di sisi kiri, menggandeng lengan ibunya, sementara Raka memegang ujung lengan jaket Arga untuk menuntun langkahnya. Sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan beberapa tetangga. Ada yang sekadar mengangguk kaku, ada pula yang melirik sekilas dengan tatapan kasihan yang justru sering kali membuat dada terasa sesak.
Sesampainya di aula kelurahan, suasana sudah riuh. Puluhan warga duduk berjejer di kursi-kursi plastik putih. Di depan meja pendataan, seorang petugas berseragam khaki tampak sibuk membolak-balik lembaran kertas daftar nama sambil memanggil satu per satu warga yang antre.
Raka dan Maya berjalan pelan menuju meja petugas, dibantu oleh Arga yang menuntun mereka mencari tempat duduk kosong di barisan belakang. Begitu namanya dipanggil lewat pelantang suara, Raka melangkah maju dengan tongkat putihnya, berdiri di depan meja petugas kelurahan.
"Maaf, Pak, saya Raka dari RT 08. Mau konfirmasi pengambilan beras bansos atas nama keluarga saya," ucap Raka tenang namun tegas.
Petugas berseragam itu mendongak. Ia mengetik beberapa kata di komputer jinjingnya, lalu menatap layar dengan kening berkerut. Ia menggeser-geser tetikusnya beberapa kali sebelum mengembuskan napas pendek.
"Raka... Raka Setiawan, ya?" tanya petugas itu tanpa melihat langsung ke arah Raka. "Maaf, Pak Raka. Berdasarkan data sistem terpadu kesejahteraan sosial terbaru yang kami pegang, nama Bapak statusnya tidak padan atau terlewat verifikasi pusat. Di kolom keterangan tertulis bahwa kepala keluarga tercatat memiliki penghasilan mandiri dari usaha digital dan konten kreator, jadi statusnya dialihkan ke kategori mampu."
Raka tertegun. Ia berdiri kaku di depan meja. "Tapi, Pak... usaha digital apa? Saya cuma bikin artikel lepas sama ngurusin kode web kecil-kecilan. Penghasilan saya sebulan tidak menentu, kadang tidak sampai satu juta."
"Aturannya dari pusat begitu, Pak. Sistem membaca ada aktivitas digital dan kepemilikan perangkat komunikasi yang aktif, jadi otomatis tereliminasi dari daftar penerima bantuan dasar," jawab petugas itu dengan nada datar, seolah sudah mengucapkan kalimat yang sama ratusan kali hari itu. "Silakan warga lain yang mengantre."
Arga, yang berdiri di samping ayahnya, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin sekali membentak petugas itu, ingin meneriakkan kenyataan bahwa mereka bahkan sering makan hanya dengan tempe setengah iris. Namun, ia menahan diri saat merasakan tangan ibunya menyentuh pundaknya dengan lembut, memberikanisyarat agar tidak membuat keributan.
Raka menarik napas dalam-dalam. Ia tidak marah, atau lebih tepatnya, rasa lelahnya sudah jauh lebih besar daripada amarahnya. Ia mengangguk pelan, lalu meraba tepi meja untuk memutar badannya.
"Terima kasih, Pak," ucap Raka pelan.
Mereka bertiga berjalan keluar meninggalkan aula kelurahan di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat kulit. Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan sepanjang perjalanan pulang. Sesampainya di kontrakan, Raka langsung duduk di tepi kasurnya, meraba laptop usangnya yang masih menyala menampilkan draf pesanan klien.
Maya duduk di sebelah suaminya, meremas jemari Raka yang dingin. Arga berdiri di dekat pintu, menatap tas sekolahnya yang sudah usang di sudut ruangan.
"Tidak apa-apa, Mas," bisik Maya lirih, berusaha menyunggingkan senyum di tengah kepedihan yang menyesak dada. "Kita masih punya tangan, masih bisa kerja. Rezeki tidak akan tertukar."
Raka meraba pipi istrinya, lalu tersenyum tipis. Ia kembali menarik laptopnya mendekat, menyalakan pemindai layar, dan mulai mendengarkan rentetan kode yang harus ia selesaikan hari itu. Di luar sana, dunia digital terus berputar dengan segala kemegahannya, sementara di dalam petak sempit ini, Raka kembali mengetuk kibornya, menolak tunduk pada keadaan yang berusaha meratakan harga diri mereka dengan tanah.
Posting Komentar