Ketukan di Balik Layar Gelap
Ketukan di Balik Layar Gelap
BAB 1: Ketukan di Atas Layar Gelap
Gerimis yang tadinya hanya menyapu debu perlahan berubah menjadi rintik yang lebih padat, mengetuk-ngetuk seng kanopi di luar kontrakan petak dengan irama yang lama-kelamaan mendengung di kepala. Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, aroma minyak angin bercampur bau kertas basah dan uap kopi hitam yang mulai dingin. Raka tidak menyalakan lampu neon utama; ia lebih memilih membiarkan cahaya temaram dari layar laptop usang miliknya memantul redup di dinding kapur yang sudah mengelupas.
Jarinya masih menari di atas papan ketik, memastikan setiap baris kode HTML untuk situs web pesanan klien kecilnya tersusun rapi tanpa ada tag yang tertinggal. Di telinganya, suara pembaca layar berderu cepat—hampir seperti dengung lebah yang mustahil dimengerti oleh telinga orang awam. Bagi Raka, deru suara itulah mata dan dunianya selama bertahun-tahun. Lewat PT Sinergi Hadi Sejahtera, sebuah bendera usaha kecil yang ia dirikan sendiri di atas kertas maya, ia menggantungkan hidup keluarganya dari belas kasihan digital: merangkai kalimat copywriting untuk toko baju daring, memperbaiki tata letak situs web, hingga membalas pesan calon pembeli lewat perantara alat bantu aksesibilitas.
Di sudut ruangan, ponsel murah yang dipasang di atas tripod plastik masih setia merekam sudut kosong tempat ia biasa duduk. Hari itu, ia baru saja selesai merekam video untuk kanal YouTube-nya, Hadiedukasi. Topiknya sederhana: bagaimana seorang tunanetra tetap bisa produktif mencari nafkah di era digital tanpa harus menyerah pada keadaan. Raka sering tertawa dalam hati jika mengingat itu. Menasihati orang lain lewat layar kaca agar tetap kuat rasanya jauh lebih mudah daripada menghadapi kenyataan dompet digital yang isinya tinggal cukup untuk membeli sebungkus mi instan dan separuh liter beras.
Maya melangkah pelan dari arah bilik dapur yang menyatu dengan ruang tidur. Tangannya terbiasa meraba tepian meja, sudut lemari, hingga bingkai pintu agar tidak menyenggol apa pun. Perempuan itu membawa nampan kecil berisi dua cangkir kopi hitam dan sisa kue pasar kemarin sore yang sudah agak mengeras. Ia meletakkannya di atas lantai keramik yang dingin, lalu duduk bersimpuh, merapikan lipatan kain seragam sekolah Arga yang baru saja ia setrika dengan hati-hati.
"Gimana, Mas? Ada tambahan dari klien yang kemarin?" suara Maya terdengar serak, menyimpan sisa batuk yang belum sembuh sejak minggu lalu.
Raka meraba cangkir kopinya, meniup permukaannya pelan sebelum menyesap sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Belum ada, May. Yang pesanan copywriting baru dibayar setengah muka. Katanya sisanya kalau barangnya sudah diunggah ke toko daring mereka. Tadi juga sempat ngecek saldo dompet digital dari hasil pijat panggilan kemarin sama komisi kecil dari Sinergi Hadi Sejahtera."
Maya terdiam sejenak. Ia sudah bisa menebak jawabannya, tetapi ia tetap membuka aplikasi di ponselnya demi memastikan angka yang terpampang di sana. Dengan bantuan suara dari pelantang ponsel, terdengar angka sembilan ratus ribu rupiah disebutkan dengan jelas. Angka itu harus cukup untuk bertahan hingga minggu depan di Jakarta yang kian hari kian tak ramah pada orang-orang kecil.
Ironisnya, jika lembaran kertas sensus kelurahan dibuka, nama keluarga kecil mereka tercatat sebagai penerima bantuan sosial terpadu di desil tiga—kelompok masyarakat yang dianggap paling rentan dan berhak atas uluran tangan negara. Namun, kenyataannya, sudah tiga kali pergantian tahun mereka mendatangi kantor kelurahan, bertanya lewat aplikasi daring, hingga memohon pada ketua RT setempat, dan jawabannya selalu sama: nama mereka belum tercantum di daftar pencairan. Sistem digital yang diagung-agungkan di luar sana seolah buta pada keberadaan mereka yang benar-benar hidup dalam gelap.
Pintu kontrakan berderit pelan. Arga masuk sambil membawa tas ransel hitam yang bagian tali kanannya sudah diikat menggunakan tali rafia agar tidak lepas. Bocah dua belas tahun itu baru saja turun dari angkot di jalan raya Cipayung, berjalan kaki menyusuri jalanan kampung yang becek demi menghemat uang saku. Ia berdiri di ambang pintu, melepas sepatu kanvasnya yang sudah jebol di bagian jempol, lalu mendapati kedua orang tuanya tengah duduk dalam keheningan yang sarat beban.
Arga mendengar sebagian percakapan tadi. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba mencubit ulu hatinya, rasa sesak yang membuatnya ingin berteriak protes pada dunia. Kenapa ayahnya yang tidak bisa melihat harus membanting tulang siang malam di depan layar usang? Kenapa ibunya harus menahan sakit di pinggang akibat berkeliling memijat sementara tetangga sebelah yang punya mobil mewah justru mendapat jatah beras bantuan?
Namun, bocah itu memilih menelan semua kemarahannya bulat-bulat. Ia melangkah mendekat, mencium punggung tangan ayah dan ibunya bergantian dengan takzim.
"Udah pulang, Nak? Cuci kaki dulu sana, Ibu sudah masakin air hangat di termos," ucap Maya sambil tersenyum, berusaha keras menyembunyikan lelah di balik kerutan matanya.
Malam harinya, di bawah temaram lampu LED lima watt yang digantung di tengah ruangan, ketiganya duduk melingkar di atas lantai semen tanpa alas karpet tebal. Piring di hadapan mereka hanya berisi nasi putih yang masih mengepulkan uap tipis dan sepotong tempe goreng yang dibagi dua. Tidak ada lauk mewah, tidak ada suara televisi karena mereka memang tidak punya benda itu. Yang terdengar hanya deru angin malam dari celah ventilasi dan suara ketukan keyboard dari laptop Raka yang masih menyala di samping piring makannya.
Raka meraba mangkuk nasinya, lalu meletakkan sendoknya perlahan. Ia meraba pundak Arga yang duduk di sampingnya.
"Arga, Nak..." suara Raka terdengar rendah, nyaris berbisik. "Maaf ya, kalau sampai hari ini Ayah sama Ibu belum bisa kasih kehidupan yang layak kayak teman-temanmu di sekolah. Ayah cuma bisa mengandalkan jasa pijat, ngetik kode dan bikin copywriting lewat Sinergi Hadi Sejahtera, sama bikin konten seadanya di Hadiedukasi. Tapi... Ayah cuma mau minta satu hal sama kamu. Sekolah yang bener, ya. Jangan pernah malu sama keadaan rumah kita. Jadikan ini alasan buat kamu keluar dari lingkaran ini suatu hari nanti."
Arga menatap kosong ke arah mata ayahnya yang tidak memantulkan cahaya apa pun. Ia beralih menatap wajah ibunya yang menunduk, memperhatikan jemari kasar wanita itu yang sedang mengusap ujung taplak meja plastik. Seketika, sisa-sisa rasa malu yang sempat hinggap di hatinya tadi siang—ketika ia mendengar bisik-bisik teman sekelasnya soal bau minyak angin di bajunya—menguap tak bersisa, berganti dengan gelombang rasa haru yang mendesak dadanya.
Bocah itu merengkuh bahu ayahnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Raka.
"Ayah enggak usah ngomong gitu..." bisik Arga serak, air matanya akhirnya tumpah juga membasahi bahu aus kemeja ayahnya. "Arga bangga banget sama Ayah dan Ibu. Enggak ada yang perlu disesali. Nanti, habis Arga selesai kerjain PR matematika, Arga bantu Ayah balas pesan-pesan dari klien di laptop, ya?"
Maya mengulurkan tangan, mengelus rambut anaknya dengan penuh kelembutan sementara air matanya sendiri jatuh menetes ke atas piring nasi yang belum habis ia makan.
Di dalam petak sempit di kawasan Setu Cipayung itu, di antara himpitan hidup kota metropolitan yang bising dan acuh tak acuh, tiga manusia biasa itu saling berpegangan erat. Mereka tahu kemiskinan dan keterbatasan fisik bisa merampas banyak hal dari hidup mereka, tetapi malam itu, di bawah cahaya lampu lima watt yang temaram, mereka kembali membuktikan bahwa harga diri dan kasih sayang tidak pernah bisa dibeli, apalagi direnggut oleh keadaan.
Posting Komentar