Table of Contents
Pajak Selebritas China dan Pelajaran Tentang Keadilan yang Masih Gelap
Bagi saya, dunia ini dibaca melalui getaran suara dan rabaan permukaan benda. Ujung tongkat putih di tangan saya adalah saksi bisu setiap kali saya menapaki jalanan kota, merasakan tekstur trotoar yang seringkali tak masuk akal. Belakangan, telinga saya menangkap riuh kabar dari Beijing. Otoritas pajak di sana baru saja menjatuhkan denda miliaran rupiah kepada selebritas internet yang menggelapkan pendapatan mereka. Mendengar itu, saya tersenyum kecut. Di sana, negara benar benar menunjukkan taringnya untuk memastikan keadilan bagi kas negara. Di sini, saya justru teringat bagaimana perjuangan kita mencari keadilan yang paling mendasar.
Sepuluh tahun sudah berlalu sejak Undang Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas disahkan pada 17 April 2016. Waktu itu, rasanya seperti ada secercah cahaya yang menyelinap di antara kegelapan. Kawan kawan saya menangis haru, membayangkan dunia yang akan jauh lebih inklusif. Namun, sepuluh tahun kemudian, rabaan tongkat saya di ruang publik masih saja menemui banyak hambatan. Ternyata, aturan yang indah di atas kertas belum tentu terasa nyata di jalanan atau di meja kerja.
Keadilan yang Pilih Kasih
Negara di China mampu melacak setiap yuan yang disembunyikan oleh para streamer kaya raya. Mereka tidak peduli seberapa banyak pengikut di media sosial, hukum tetaplah hukum. Sementara itu, saat saya merujuk pada data BPS melalui Susenas, realitas bagi penyandang disabilitas masih sangat memprihatinkan. Tingkat partisipasi ekonomi kita masih jauh dari kata layak. Perusahaan perusahaan besar seringkali menutup mata, enggan memenuhi kuota pekerja difabel yang seharusnya menjadi bagian dari kewajiban mereka.
Rasanya seperti ada kontras yang menyakitkan. Negara begitu lihai menggunakan teknologi untuk mengawasi arus uang di dunia digital, tapi seolah kehilangan akal ketika berhadapan dengan hak dasar warga negara yang terpinggirkan. Jika untuk mengejar pengemplang pajak saja pemerintah bisa begitu gigih, mengapa ketegasan yang sama tidak terlihat saat perusahaan mengabaikan hak hidup kaum difabel?
Teknologi Bukan Hanya Untuk Mengejar Uang
Saya sangat menikmati bagaimana teknologi, lewat bantuan screen reader, memungkinkan saya mengakses informasi yang dulu tertutup rapat. Tapi, teknologi seharusnya bukan sekadar alat untuk menimbun kekayaan atau memudahkankan penipuan pajak. Ia seharusnya menjadi instrumen kesetaraan. Ketimpangan drastis yang ditemukan di China—di mana seorang pesohor dengan jutaan pesanan hanya membayar pajak recehan—adalah tamparan bagi kita semua. Ini menunjukkan bahwa ketika pengawasan lemah, mereka yang di atas akan selalu menemukan cara untuk terus memperkaya diri di atas hak orang banyak.
Kita memang perlu menertibkan dunia digital kita. Tapi, jangan sampai fokus kita pada angka angka pajak di layar kaca membuat kita lupa bahwa ada manusia yang berjuang di dunia nyata. Ada jutaan difabel yang masih menanti pintu kesempatan terbuka. Mereka bukan butuh belas kasihan. Mereka butuh keberanian negara untuk memastikan setiap kantor, setiap pusat perbelanjaan, dan setiap sistem kerja benar benar inklusif.
Demokrasi Adalah Tentang Pintu yang Terbuka
Pada akhirnya, saya percaya demokrasi bukanlah sesuatu yang bisa dirasakan hanya lewat angka atau data statistik. Demokrasi adalah tentang akses. Ia adalah tentang bagaimana negara memastikan jalanan saya tidak terputus, pekerjaan saya dihargai, dan suara saya didengar. Jika negara bisa melacak setiap aliran uang streamer di China, negara tentu bisa memastikan setiap hak warga negara terpenuhi tanpa pandang bulu.
Saya berharap, setelah satu dekade undang undang disabilitas berjalan, kita mulai berani menuntut lebih. Kita butuh negara yang tidak hanya pintar menghitung pajak, tetapi juga pintar memanusiakan manusianya. Karena bagi saya, keadilan bukan sekadar tentang siapa yang membayar pajak, tapi tentang bagaimana setiap warga, dengan segala keterbatasannya, bisa berdiri tegak dan setara di tanah kelahirannya sendiri. Itu adalah esensi paling mendasar dari sebuah negara yang benar benar merdeka.
Posting Komentar