Table of Contents
Makan Bergizi Gratis: Menguji Integritas di Balik Piring
Program Makan Bergizi Gratis jadi sorotan. Mampukah kita menjaga amanah bagi anak-anak atau justru berakhir jadi ladang kebocoran anggaran?
integritas-program-makan-bergizi-gratis
Malam ini udara di Setu terasa kering dan sedikit berdebu: khas angin yang berhembus melewati jalanan aspal yang sudah mulai mendingin setelah seharian terpanggang matahari. Saya duduk di teras depan: mendengarkan sayup-sayup suara azan dari arah Masjid Jami Al-Hitmah Hidayah yang terasa dekat dan jernih. Suara itu bersahutan dengan deru mesin motor yang lewat tidak jauh dari tempat saya duduk.
Jam di ponsel di tangan menunjukkan angka 18.48 sebentar lagi malam sepenuhnya akan mengambil alih. Namun suasana masih cukup bising oleh aktivitas orang-orang yang baru pulang. Saya menyentuh permukaan meja kayu di depan saya: meraba tekstur seratnya yang terasa kering. Saya mencari kenyamanan di tengah riuhnya pikiran tentang apa yang sedang ramai diperbincangkan orang-orang belakangan ini.
Satu hal terus berputar di kepala saya tentang program Makan Bergizi Gratis: banyak orang bilang ini langkah besar. Tapi telinga saya lebih sering mendengar bisik-bisik kecurigaan soal bagaimana dana yang begitu besar bisa begitu mudah bocor di tengah jalan. Di kantor saya di PT Sinergi Hadi Sejahtera: kami selalu belajar bahwa kepercayaan itu dibangun dari kejujuran dalam setiap detail terkecil. Mulai dari laporan keuangan sampai cara kami melayani mitra.
Namun di tingkat nasional: rasanya integritas itu menjadi barang yang jauh lebih mahal daripada harga sepiring makanan itu sendiri. Saya membayangkan anak-anak yang seharusnya menerima manfaat itu: apakah mereka merasakan kehangatan makanan yang layak? Atau justru hanya mendapatkan sisa-sisa dari apa yang sudah disunat oleh oknum di atas sana. Rasanya pahit: seperti menelan sesuatu yang tidak seharusnya ada di piring kita.
Ketika orang-orang bicara soal modus korupsi mulai dari dapur fiktif sampai pemotongan anggaran: saya hanya bisa menarik napas panjang. Mengapa selalu ada saja cara untuk memanfaatkan mereka yang paling tidak berdaya? Termasuk anak-anak yang membutuhkan gizi demi masa depan mereka.
Data di lapangan menunjukkan kekhawatiran ini bukan sekadar isapan jempol. Berdasarkan catatan beberapa lembaga pengawas anggaran, kerentanan kebocoran dana bansos atau program sejenis sering terjadi pada rantai distribusi. Modus seperti penggelembungan harga bahan baku, pengurangan porsi nutrisi yang tidak sesuai standar, hingga penyedia jasa yang tidak kompeten menjadi ancaman nyata. Angka yang digelontorkan pemerintah untuk program ini sangat masif, mencapai puluhan triliun rupiah per tahun. Tanpa mekanisme pengawasan yang menyentuh level akar rumput, risiko penyalahgunaan menjadi sangat tinggi.
Saya sering berpikir: apakah sistem pengawasan kita memang sengaja dibuat serumit itu supaya celahnya tidak terlihat? Seharusnya akses itu diberikan untuk mereka yang butuh: bukan menjadi ladang bagi segelintir orang untuk memperkaya diri. Atau malah menyiapkan mesin politik untuk lima tahun mendatang.
Kami di komunitas disabilitas sering sekali bicara soal prinsip tidak ada kebijakan tentang kami tanpa melibatkan kami. Tentang bagaimana kebijakan harus melibatkan mereka yang terdampak. Tapi dalam program besar ini: sepertinya suara-suara di akar rumput masih terlalu pelan untuk menembus tembok birokrasi yang tebal.
Malam semakin terasa sepi: suara jangkrik mulai terdengar di sela-sela kebisingan kendaraan yang perlahan memudar. Saya masih duduk di sini: merenung apakah sebuah program yang dibangun atas nama kemanusiaan akan tetap bertahan jika fondasinya terus digerogoti dari dalam. Bukankah seharusnya integritas itu lebih utama daripada sekadar ambisi angka-angka di atas kertas?
Kita harus berani bertanya: ke mana arah semua ini? Saya tidak tahu pasti. Tapi saya tahu satu hal: ketika kepercayaan itu hilang: yang tersisa hanyalah kekecewaan yang sangat panjang. Kita butuh transparansi yang bisa diraba: bukan sekadar janji yang tertulis di poster atau spanduk di pinggir jalan.
Apa yang terjadi saat ini adalah alarm bagi kita semua. Jika dana untuk anak-anak saja masih bisa dipotong: bagaimana nasib program lain yang mungkin tidak mendapatkan sorotan sebesar ini? Korupsi bukan hanya angka yang hilang: tapi kesempatan anak-anak untuk tumbuh sehat yang ikut terenggut.
Kita harus menuntut keterbukaan. Jangan biarkan sistem yang seharusnya menjadi jalan keluar malah menjadi jeratan bagi masa depan bangsa. Saya mengajak Anda yang membaca ini untuk terus menjaga kewaspadaan: karena kalau bukan kita yang mengawasi: siapa lagi?
Mari kita diskusikan di kolom komentar: bagaimana menurut Anda cara paling masuk akal untuk mengawal program ini agar benar-benar sampai ke piring anak-anak kita? Apakah Anda juga merasakan pahitnya kenyataan ini di lapangan?
Posting Komentar