Table of Contents
Di Bawah Langit yang Memilih Diam
Malam ini sunyi duduk bersimpuh di sampingku, membawa serta sisa aroma debu yang tertinggal di jendela. Aku memeluk dingin yang mulai merayap ke pori-pori, menatap langit yang menyembunyikan ribuan bintang di balik awan yang enggan beranjak. Di sini, di ruang antara ingatan dan kenyataan, aku merasa seolah waktu sengaja melambat, membiarkan setiap retak di hati kembali menyuarakan namanya. Luka yang dulu tajam, kini tumpul oleh gesekan usia, namun tetap saja, ia berdenyut lirih saat angin malam berbisik tentang hal-hal yang tidak sempat terucap.
Aku sering bertanya kepada rembulan, apakah kesedihan ini adalah cara semesta memintaku berhenti sejenak, atau sekadar ujian agar aku tahu betapa rapuhnya genggaman manusia. Kecewa pernah singgah dan menanam duri, membuat langkah terasa berat di atas bumi yang tak lagi terasa ramah. Aku pernah merasa kehilangan arah, seolah cahaya telah padam tepat saat aku paling membutuhkan tuntunannya.
Namun, di antara keheningan yang panjang ini, aku mulai belajar mendengar detak jantungku sendiri yang masih mencoba bertahan. Aku menyadari bahwa di balik awan hitam yang memayungi langkahku, semesta tidak pernah benar-benar memalingkan wajahnya. Ada ribuan nikmat yang berbaris rapi, yang sering kali terabaikan oleh mataku yang terlalu sibuk menatap mendung.
Perlahan aku memejamkan mata, membiarkan napas menjadi doa yang menyatu dengan udara. Aku belajar menerima bahwa hidup adalah serangkaian musim yang berganti, dan kesedihan hanyalah tamu yang perlu dijamu dengan keikhlasan sebelum ia pergi. Bahwa di balik pintu yang tertutup rapat, selalu ada jendela lain yang sengaja terbuka, menunggu untuk menyambut cahaya fajar yang baru.
Kini, aku berdiri di ambang penerimaan yang damai. Aku tidak lagi meminta langit untuk selalu cerah, aku hanya meminta hati untuk tetap lapang, seluas lautan yang mampu menampung badai namun tetap tenang di permukaannya. Aku akan terus melangkah, membawa syukur sebagai lentera di setiap jalan setapak, karena aku tahu, selama napas masih berhembus, selalu ada harapan yang tumbuh di sela-sela retakan jiwa.
Terima kasih, sunyi, karena telah menemaniku pulang ke pelukan Tuhan yang tak pernah meninggalkan, tepat saat aku merasa benar-benar sendiri.
🤍 Abdul Hadi Diva ✨
Posting Komentar