Table of Contents
Di Balik Tirai Takdir yang Menyembunyikan Pelangi
Di sudut ruang ini aku duduk seorang diri, ditemani sunyi yang merambat pelan di dinding kontrakan tua. Dingin udara pagi menusuk hingga ke tulang, membawa ingatan yang enggan beranjak tentang segalanya yang pernah kupeluk namun harus kulepaskan. Ada luka yang tidak sempat dijelaskan, sebuah tanya yang tertahan di kerongkongan, dan rindu yang tumbuh diam-diam seperti ilalang di antara retakan hati yang pernah hancur. 🍂
Dunia memang panggung ujian yang tak pernah berhenti berganti babak, di mana ekspektasi seringkali luruh sebelum sempat menyentuh bumi. Aku pernah mencoba memaksa arah angin, menahan perahu agar tidak terbawa arus, namun semesta memiliki cara yang tak terduga untuk meruntuhkan rencana manusia yang fana. Setiap kehilangan adalah jejak pelajaran yang tertinggal, agar kelak aku tidak lagi terperosok ke dalam lubang yang sama di jalan yang panjang ini. 🌧️
Lelah itu nyata, merayap di pundak hingga membuat napas terasa berat. Namun aku ingat bahwa menyerah bukan sebuah pilihan bagi jiwa yang masih memiliki sisa harapan. Kesalahan kemarin memang telah menjadi catatan abadi yang tak mungkin terhapus, tetapi hari esok masih menyediakan lembaran putih yang menunggu untuk ditulis ulang dengan tinta kebijaksanaan. Jika langkah ini mulai goyah, aku akan berhenti sejenak, membiarkan waktu menyembuhkan apa yang sempat retak. ✨
Aku menengadah ke arah rembulan yang tertutup awan, menyadari bahwa mengeluh pada dunia hanya akan menambah beban di pundak yang sudah renta oleh waktu. Segala perih, sakit, dan ujian hidup hanyalah cara Tuhan untuk memahat diriku agar lebih sabar dalam menanti pahala yang dijanjikan-Nya. Bukankah Sang Kekasih, Rasul yang mulia, telah mengajarkan cara terbaik untuk pulang menuju pelukan ketabahan saat badai datang menerjang? 🌙
Kini, perlahan rasa itu berubah. Aku belajar menerima segala hal yang tidak berjalan seperti keinginan hati. Ruang keikhlasan mulai kutata di relung terdalam, menggantikan kecewa dengan doa-doa kecil yang kularung bersama angin. Biarlah fajar menyingsing dengan membawa sedikit kehangatan, karena di balik setiap kepahitan, selalu ada jalan pulang menuju damai yang sebenarnya. Percayalah, pada akhirnya, hanya Dia tempat segala lelah menemukan sandaran. 🕯️
🤍 Abdul Hadi Diva ✨terasaksara
Posting Komentar