Table of Contents
Di Balik Jendela yang Membisu: Sepucuk Doa untuk Kamu yang Telah Jauh
Cahaya fajar menyelinap pelan di balik tirai, membawa sisa embun yang tertinggal di ujung daun. Aku masih duduk di sini, di kursi yang sama, menatap bias cahaya yang membasuh ruang tamu yang sunyi. Semalam, aku membiarkan diriku tenggelam dalam riuh kenangan, namun pagi ini, saat dunia perlahan terjaga, napasku terasa lebih ringan.
Aku menyadari, caramu datang bagai angin yang tak menetap, memang sempat meninggalkan lara yang membekas. Aku sempat terperangkap dalam fabula yang kubangun sendiri, berharap kamu adalah rumah tempatku menepi. Namun lihatlah, pagi ini mengajarkanku bahwa semesta tidak pernah salah menyusun takdir. Ada hal-hal yang memang harus berhenti agar kita bisa belajar menata kembali serpihan diri.
Suara tawamu yang dulu menjadi rasi bintang penunjuk arah, kini telah melebur bersama kabut yang perlahan menyingkir. Aku tidak lagi memikul nelangsa itu sendirian. Aku membiarkannya mengalir bersama arus waktu, membiarkan luka-luka yang sempat basah kini perlahan mengering. Hatimu yang tertutup rapat, bukan lagi pintu yang harus kupaksa, melainkan sebuah ruang yang kuhormati privasinya.
Di bawah langit yang perlahan membiru, aku menitipkan doa yang hening kepada semesta. Aku melepasmu dengan segenap ikhlas, membiarkanmu menjadi bagian dari perjalanan yang mendewasakan. Tidak ada lagi sesak yang tertahan, tidak ada lagi tanya yang menuntut jawaban. Aku sedang belajar untuk berdamai, memeluk setiap kepingan kisah ini sebagai pelajaran paling berharga tentang melepaskan.
Kini, matahari mulai hangat menyentuh pundakku, seolah memberi tanda bahwa hari baru adalah kesempatan untuk kembali mencintai diri sendiri. Aku menyeduh secangkir ketenangan, menyambut fajar dengan hati yang lebih lapang. Ternyata, melepaskan adalah bentuk doa terbaik agar kita berdua bisa menemukan jalan pulang, menuju kedamaian yang sesungguhnya.
🤍 Abdul Hadi Diva ✨terasaksara
Posting Komentar