Table of Contents
Sebelum Layar Laptop Menghangat: Sebuah Catatan yang Mengendap Lama
Malam yang mulai merayap naik ini rasanya sangat gerah. Sama sekali tidak ada angin yang masuk lewat celah jendela ruang tamu. Yang terdengar justru deru konstan dari kipas angin di sudut ruangan yang berputar maksimal, mencoba mengusir hawa sumpek yang mengepung sejak siang tadi. Saya sedang duduk bersila, jemari meraba tepian laptop yang mulai menghangat setelah hampir sejam menyala, menunggu *screen reader* di telinga kanan saya selesai membacakan beberapa notifikasi yang sempat tertunda.
Saya berhenti cukup lama.
Mendengarkan sunyi yang perlahan merayap di antara jeda suara ketikan.
Ada masa ketika saya merasa dunia ini terlalu bising, namun di saat yang sama, tidak cukup mendengar apa yang sedang saya rasakan. Sebagai seorang difabel netra yang sehari-hari bergelut dengan isu disabilitas, ego saya seringkali menuntut lebih. Saya ingin didengar ketika lelah. Ingin dipeluk ketika rapuh. Ingin orang-orang di luar sana mengerti lapis demi lapis hambatan yang saya hadapi tanpa saya harus lelah menjelaskan terlalu banyak.
Lalu hidup memperlihatkan sebuah cermin. Cermin yang tidak bisa saya lihat dengan mata, melainkan saya rasakan getarannya di dalam dada. Dan jujur, itu bukan sesuatu yang nyaman untuk ditatap.
Di dalam pantulan batin itu, saya justru melihat diri yang egois. Seseorang yang begitu sering meminta pengertian dari orang awam, tetapi tidak selalu balik memberi pengertian kepada mereka. Seseorang yang takut terluka oleh stigma, namun tanpa sadar pernah melukai orang lain dengan sinisme yang sama kaku.
Bukankah itu ironi yang paling purba dari kita sebagai manusia?
Kita begitu peka, bahkan sangat hafal, dengan letak perih di kulit sendiri. Namun, kita kerap buta—dalam arti yang sesungguhnya—terhadap goresan yang kita tinggalkan di hati sesama.
Saya diam beberapa detik.
Mengingat-ingat kembali interaksi di linimasa media sosial belakangan ini. Lewat suara asisten Google yang membaca setiap baris komentar, saya sering menangkap aroma kecemburuan sosial yang pekat. Orang-orang begitu mudah saling menilai, saling sikut, dan merasa paling menderita. Di lingkaran gerakan akar rumput sekalipun, gesekan itu ada. Kita sering menggaungkan narasi besar seperti *"Nothing About Us Without Us"*—sebuah prinsip bahwa tidak boleh ada kebijakan tentang kami tanpa melibatkan kami. Itu mutlak benar. Tapi kadang, di tingkat tapak, ego kita sendiri yang justru mengeksklusi kawan seiring. Kita ingin meruntuhkan tembok pembatas di luar, tapi tanpa sadar membangun dinding baru di dalam rumah sendiri karena rasa iri atau gengsi.
Ada ucapan yang mungkin sudah kita lupakan sambil lalu, tetapi masih mengendap dan mengeras di kepala orang yang menerimanya.
Ada diam yang kita anggap wajar sebagai bentuk perlindungan diri, padahal bagi seseorang di ujung sana, diam itu bergetar hebat seperti sebuah penolakan.
Semakin hari, saat jemari ini semakin lambat mengetik, saya mulai mengerti bahwa menjadi manusia baik itu melelahkan jika tujuannya hanya kosmetik. Menjadi baik itu urusan berani melonggarkan genggaman ego. Berani mengaku kalah, berani melangkah mundur untuk meminta maaf, dan berani memperbaiki diri justru saat tidak ada satu orang pun yang menuntut kita untuk melakukannya.
Di penghujung Dzulhijjah ini, saat banyak orang merenungkan makna pengorbanan, mungkin ada satu sembelihan yang belum selesai kita tunaikan: ego sendiri. Ego yang selalu ingin memenangkan argumen. Ego yang merasa paling berhak dimengerti hanya karena kita menyandang status tertentu atau merasa paling berjuang.
Suhu ruangan yang panas malam ini justru membuat renungan ini terasa lebih menampar. Menghadapi cuaca yang membakar begini saja kita bisa langsung merasa gerah dan tidak nyaman, persis seperti ego kita yang mudah sekali menyala dan memanaskan suasana saat merasa tidak dipahami.
Saya meraba gelas di samping laptop. Permukaannya terasa hangat, senada dengan udara malam ini yang kering.
Sebelum layar laptop ini saya tutup, sebuah pertanyaan ringkas mendadak mengetuk kepala saya sendiri. Bukan untuk dunia, tapi untuk Abdul Hadi yang sedang terduduk lesu ini:
*"Sudahkah saya menjadi manusia yang membuat orang di sekitar merasa aman dan tenang?"*
Entahlah. Saya masih harus banyak belajar berjalan di ruang yang gelap ini, bukan hanya dengan tongkat, tapi dengan hati yang lebih lapang. Besok mungkin saya salah lagi. Tapi malam ini, biarlah catatan ini menggantung di sini, bersama gerah yang belum juga usai.
Posting Komentar