Table of Contents
Meraba Beban di Kepala, Mengubah Utang Menjadi Doa
Hawa udara di teras rumah mulai terasa agak gerah menyengat kulit, pertanda matahari sudah hampir tegak lurus di atas langit Setu, Cipayung. Sayup-sayup, suara mesin kendaraan di jalan raya terdengar agak meredup, berganti dengan riuh rendah suara anak-anak yang sedang belajar di Bimbel Calaca Miss Imas tak jauh dari rumah, berbaur dengan sesekali suara pedagang keliling yang menjajakan dagangannya menjelang makan siang.
Saya sedang duduk di teras, jemari saya iseng meraba guratan kasar pada permukaan meja kayu di samping kursi. Di atas meja itu, ada laptop yang layarnya entah menampilkan apa—saya tidak peduli—tapi dari pelantang suaranya, *screen reader* baru saja selesai membacakan sebuah tulisan kiriman seorang kawan tentang doa pelunas utang.
Saya tertegun mendengar kalimat demi kalimat yang dibacakan mesin itu di jam sebelas siang ini.
*“Ketika seseorang meyakini racun tidak berbahaya, ia minum pun tidak mati. Tapi jika ia meyakini air putih mengandung racun, ia bisa saja kesakitan setelahnya…”*
Menarik. Pikiran kita memang sekuat itu, ya? Dia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang sekadar ketakutan di kepala.
Sebagai seorang netra, saya sangat akrab dengan cara kerja pikiran seperti ini. Bagi kami, dunia ini dibangun dari apa yang kami persepsikan lewat suara, rabaan, dan keyakinan di dalam dada. Ketika saya melangkah keluar rumah hanya modal tongkat, kalau pikiran saya sudah dipenuhi ketakutan akan terperosok lubang atau ditabrak kendaraan, seluruh tubuh saya otomatis kaku. Otot menegang, langkah jadi pendek-pendek, dan saya malah benar-benar kehilangan keseimbangan. Ketakutan itu menyabotase navigasi mandiri saya.
Hal yang sama persis terjadi pada orang yang merasa terhimpit utang. Ketika utang terus-menerus diratapi sebagai "beban raksasa" yang menindih pundak, secara psikologis tubuh akan meresponsnya sebagai ancaman. Fisik jadi lemas, pikiran buntu, dan kreativitas mati. Bagaimana bisa memikirkan ide bisnis yang brilian kalau di kepala hanya ada gemuruh kecemasan? Kebanyakan utang akhirnya gagal terbayar bukan karena orangnya malas, tapi karena potensi diri mereka sudah telanjur tersabotase oleh perasaan tidak berdaya.
Di sinilah indahnya mengubah sudut pandang, seperti yang tertulis dalam draf doa tadi. Mengubah utang menjadi rasa syukur atas kebaikan yang pernah kita terima.
Prinsip ini sebenarnya yang selalu saya bawa dalam membangun usaha kecil-kecilan saya, PT Sinergi Hadi Sejahtera. Kami di komunitas disabilitas sering kali dianggap sebagai pihak yang "butuh dibantu" atau "beban". Tapi di perusahaan ini, kami membalik cara pandang itu. Kami tidak ingin bergerak dari rasa tidak berdaya atau belas kasihan. Kami bergerak dari potensi, dari apa yang bisa kami kontribusikan. *Nothing about us without us*—jangan rumuskan apa pun tentang kami tanpa melibatkan kami. Kami memosisikan diri sebagai mitra yang setara, bukan beban sosial.
Sama seperti utang tadi. Kalau kita memandangnya sebagai ruang kebaikan di mana orang lain pernah mempercayai kita, maka respons batin kita bukan lagi ketakutan, melainkan kehormatan untuk membalas kebaikan itu.
Saya menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa siang yang makin hangat masuk ke paru-paru. Sebentar lagi suara azan Zuhur akan berkumandang dari Masjid Jami Al-Hikmah Hidayah, memanggil warga untuk rehat sejenak.
Kadang saya berpikir, berapa banyak dari kita yang sebenarnya sanggup berjalan jauh, tapi memilih berhenti hanya karena pikiran kita sendiri yang membisikkan bahwa jalannya buntu? Kita terlalu sibuk merasai beratnya beban, sampai lupa beristighfar hingga dada ini benar-benar lega.
Ah, siang makin terik. Suara langkah kaki orang-orang yang bersiap ke masjid mulai terdengar satu-satu di gang depan. Dan saya masih di sini, meraba-raba batas antara kepasrahan yang tulus dan usaha yang belum selesai.
Posting Komentar