Table of Contents
Bukan Soal Iklan, Tapi Soal Siapa yang Duduk di Balik Layar
Minggu pagi di Cipayung ini terasa berbeda. Anginnya pelan, membawa sisa embun yang menguap di sela-sela kontrakan padat tempat saya tinggal. Dari arah Masjid Jami Al-Hitmah Hidayah, suara orang-orang yang baru saja menuntaskan kegiatan pagi mulai mereda, menyisakan ketenangan yang jarang saya dapatkan di hari kerja. Di tangan saya, ponsel bergetar lagi. Bukan notifikasi penting, hanya deretan pesan yang masuk ke grup-grup WhatsApp.
Saya tidak melihat layar, tapi telinga saya sudah sangat akrab dengan ritme *screen reader* yang membacakan pesan-pesan itu. Terlalu cepat, terlalu berisik, dan—jujur saja—terlalu sering jualan.
Ada semacam kelelahan kolektif yang saya rasakan. Orang-orang seolah berlomba membanjiri grup dengan *broadcast* yang isinya persis sama. Foto produk, kalimat promosi yang kaku, dan ajakan beli yang datang tiap beberapa jam. Saya membayangkan orang-orang di grup itu mungkin sudah muak, bahkan baru melihat gambarnya saja sudah langsung mereka *skip*.
Saya sering bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali kita benar-benar "ngobrol" di grup? Bukan sekadar tempel iklan lalu pergi.
Bagi saya, grup WhatsApp itu seperti ruang tamu. Kalau saya bertamu ke rumah teman, masa saya langsung menyodorkan brosur jualan tanpa bertanya kabar? Rasanya tidak etis. Grup WhatsApp seharusnya jadi tempat kita menanam benih kepercayaan, bukan tempat untuk menebar *spam*.
Terkadang, saya memilih diam. Saya membiarkan ponsel itu hening. Saya lebih suka muncul sesekali saja, tapi dengan sesuatu yang memang ada isinya. Mungkin sekadar memberi tanggapan pada masalah yang sedang dibahas anggota grup, atau berbagi sedikit cerita tentang tantangan yang saya alami di lapangan. Itu jauh lebih manusiawi, bukan?
Prinsip saya tetap sama: *Nothing About Us Without Us*.
Apa pun yang mau kita tawarkan, pastikan itu memang menjawab kebutuhan orang, bukan sekadar memuaskan ego kita untuk jualan. Di era serba AI seperti sekarang, memang mudah sekali membuat kata-kata manis dalam hitungan detik. Tapi, AI tidak bisa membangun *trust*. Rasa percaya itu barang mahal yang cuma bisa tumbuh kalau orang merasa nyaman berkomunikasi dengan kita.
Saat *positioning* kita sudah terbentuk—saat orang mulai kenal bahwa kita bukan sekadar tukang jualan—dari situlah biasanya keajaiban terjadi. Orang akan japri sendiri. Mereka bertanya, mereka minta saran, mereka ingin ngobrol lebih dalam. Di obrolan privat itulah, proses *prospecting* yang sesungguhnya berjalan. Sangat halus, tanpa perlu berisik.
Lalu, bagaimana dengan grup-grup di ponselmu? Apakah masih terasa penuh dengan hiruk-pikuk iklan yang melelahkan?
Saya penasaran, apa sih yang sebenarnya bikin kamu bertahan di grup tertentu? Apakah karena postingannya, atau karena orang-orang yang ada di dalamnya? Kalau kamu mau berbagi cerita, atau mungkin sekadar ingin ngobrol santai soal bagaimana tetap bisa jualan tanpa kehilangan "rasa" sebagai manusia, pintu japri saya selalu terbuka. Tidak perlu buru-buru, sapa saja saat kamu sempat.
Teh di gelas saya sudah habis. Suasana di luar sana sudah mulai terang benderang. Rasanya, ini saat yang tepat untuk mulai menyapa orang lain dengan cara yang jauh lebih tenang.
*PT Sinergi Hadi Sejahtera - Mitra pengembangan UMKM, kreator, dan brand melalui layanan kebugaran, konsultasi bisnis, serta pengelolaan media digital.*
Posting Komentar