TIBA KE USIA 35 TAHUN
Aku tiba di tiga puluh lima tahun.
Aku diam cukup lama saat menghitungnya.
Sebab angka kadang terasa kecil ketika ditulis, lalu terasa begitu berat saat dijalani. Ada hari-hari yang lewat seperti napas tenang di dada. Ada hari-hari lain yang terasa seperti langkah panjang dengan lutut gemetar. Ada kesalahan yang pernah kubawa ke mana-mana seperti batu di punggung sendiri. Ada penyesalan yang pernah kupeluk terlalu erat sampai batin terasa pegal.
Aku pernah menyalahkan diriku sendiri.
Lama sekali.
Aku mengira masa lalu harus terus kuhukum dengan rasa bersalah. Aku mengira luka harus terus disentuh agar aku tidak lupa. Aku mengira manusia yang kuat adalah manusia yang tidak boleh rapuh.
Aku keliru.
Luka tidak meminta dipenjara di dalam dada. Ia hanya ingin diakui pernah ada, lalu dilepas perlahan seperti jemari yang akhirnya belajar mengendur setelah terlalu lama menggenggam sesuatu yang menyakitkan.
Aku juga pernah merasa asing.
Di tengah riuh Jenggala, ada saat ketika aku merasa keberadaanku diterima setengah hati. Ada tangan yang memberi tanpa menyapa. Ada belas kasih yang datang dengan jarak yang dingin. Ada perlakuan yang membuatku merasa seperti benda yang hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Dingin sekali.
Dingin yang bahkan lebih menggigit daripada Gunung Salju, sebab dingin dari cuaca hanya menyentuh tubuh, sedangkan dingin dari manusia menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam.
Aku sempat lelah.
Sangat lelah.
Lalu waktu berjalan pelan sambil meraba pundakku. Sampai akhirnya hari ini datang. Tanggal 17 Mei 2026. Usia tiga puluh lima tahun.
Tiga puluh lima.
Aku merasakan sesuatu bergerak dari kedalaman Lazuardi yang hening di dalam batinku. Tidak meledak. Tidak gaduh. Hanya rasa hangat kecil yang merambat pelan seperti seseorang yang duduk di sampingku lalu berkata dengan suara lirih, “Kamu sudah sampai sejauh ini.”
Dan dadaku menghangat.
Terima kasih Allah.
Sungguh, terima kasih karena aku masih diberi kesempatan menghirup udara yang tidak memiliki batas sentuhan. Terima kasih karena aku masih diberi napas, masih diberi waktu, masih diberi ruang untuk memperbaiki langkah yang dulu sempat tersesat.
Aku tidak sampai di sini sendirian.
Terima kasih untuk keluarga yang tetap bertahan saat langkahku terseok. Terima kasih untuk teman-teman yang mendoakan, mendukung, menerima, tidak pergi ketika hidup sedang sempit. Mungkin kalian tidak pernah sadar, doa manusia punya suhu. Ia datang tanpa suara yang gaduh. Ia menyentuh pelan. Ia menetap diam-diam di dada yang lelah.
Ada hangat yang tumbuh.
Barangkali ini Arunika yang sesungguhnya. Kehangatan yang lahir dari rasa syukur. Kehangatan yang membuat Saujana perjalanan di depan sana tidak lagi terasa menakutkan. Kehangatan yang membuat Karsa untuk terus hidup terasa lebih kuat. Kehangatan yang membuat Eunoia di dalam kepala menjadi lebih tenang.
Aku masih memiliki Renjana.
Bukan renjana untuk menjadi manusia paling hebat.
Bukan juga renjana untuk dipuji banyak orang.
Aku hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik daripada diriku yang kemarin. Manusia yang tidak berhenti belajar. Manusia yang tetap lembut meski pernah patah. Manusia yang tetap menghangatkan orang lain meski pernah menggigil sendirian.
Sebab ternyata tiga puluh lima tahun bukan tentang seberapa cepat aku berjalan.
Tiga puluh lima tahun adalah tentang rasa syukur karena aku masih diberi kesempatan untuk mengetuk dada sendiri dan berkata pelan,
"Aku masih di sini."
<catatan_dari_Lensakata>
Orang-orang sering mengira kehilangan penglihatan membuat seseorang kehilangan banyak hal. Aku justru menemukan sesuatu yang tidak semua orang sempat rasakan. Aku belajar bahwa manusia tidak tinggal pada apa yang dipandang mata. Manusia tinggal pada getaran suara yang memanggil nama kita dengan tulus, pada suhu telapak tangan yang bertahan saat kita sedang runtuh, pada jeda napas yang lahir karena rindu. Aku meraba dunia dengan rasa. Mungkin itu sebabnya aku mencintai lebih sungguh. Sebab rasa yang sampai ke jantung selalu datang tanpa kepura-puraan.
</catatan_dari_Lensakata>
Posting Komentar