Table of Contents
Pancasila Mungkin Tidak Tinggal di Buku Sejarah, Tapi di Cara Kita Memperlakukan Sesama
Pagi ini udara terasa cukup sejuk.
Dari teras rumah, saya mendengar suara burung yang sesekali bersahutan dari kejauhan. Di dapur, aroma kopi masih samar tertinggal di udara. Jemari saya menyentuh permukaan meja yang sedikit dingin, sementara ponsel di samping saya beberapa kali bergetar menandakan pesan baru yang masuk.
Tanggal 1 Juni.
Setiap tahun, tanggal ini selalu mengingatkan saya pada satu kata yang sudah akrab sejak masa sekolah: Pancasila.
Dulu saya mengenalnya sebagai lima sila yang harus dihafal. Sebagai bagian dari pelajaran yang akan muncul dalam ujian. Sebagai sesuatu yang terasa besar, resmi, dan sedikit jauh dari kehidupan sehari-hari.
Namun semakin bertambah usia, pemahaman saya berubah.
Saya justru semakin sering menemukan Pancasila bukan di ruang-ruang seremonial, melainkan di tempat-tempat yang sederhana.
Di gang kecil tempat tetangga saling membantu ketika ada yang sakit.
Di warung kopi tempat orang-orang dengan pilihan politik berbeda masih bisa duduk semeja sambil bercanda.
Di kelompok usaha kecil yang bertahan bukan karena modal besar, tetapi karena saling percaya.
Mungkin di situlah Pancasila sebenarnya tinggal.
Bukan di pidato.
Bukan di baliho.
Bukan pula di kalimat-kalimat yang hanya ramai saat peringatan tertentu.
Melainkan di cara kita memperlakukan sesama ketika tidak ada kamera yang merekam.
Sebagai seorang difabel netra, saya cukup sering memikirkan hal-hal semacam itu.
Saya pernah berada dalam sebuah diskusi yang membahas aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Banyak orang berbicara tentang kebutuhan kami. Banyak usulan disampaikan. Banyak pendapat dipertukarkan.
Tetapi yang membuat saya terdiam adalah kenyataan bahwa hampir tidak ada penyandang disabilitas yang benar-benar dilibatkan dalam proses pembahasannya.
Saat itu saya hanya duduk mendengarkan.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah keberadaan kami dianggap penting untuk dibahas, tetapi tidak cukup penting untuk didengar.
Barangkali karena itulah saya selalu merasa dekat dengan satu prinsip yang tumbuh dalam gerakan disabilitas di berbagai belahan dunia:
Nothing About Us Without Us.
Tidak ada pembahasan tentang kami tanpa melibatkan kami.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun semakin lama saya hidup, semakin saya merasa bahwa maknanya jauh lebih luas daripada isu disabilitas semata.
Ia berbicara tentang penghormatan.
Tentang kesediaan mendengar.
Tentang mengakui keberadaan orang lain sebagai manusia yang memiliki suara.
Dan bukankah semua itu juga menjadi fondasi ketika kita berbicara tentang persatuan?
Belakangan ini saya juga sering memikirkan bagaimana media sosial perlahan mengubah cara kita memandang satu sama lain.
Dengan beberapa sentuhan jari, kita bisa mengetahui kehidupan banyak orang.
Kita bisa tahu siapa yang baru membeli kendaraan.
Siapa yang usahanya berkembang.
Siapa yang baru berlibur.
Siapa yang mendapat penghargaan.
Siapa yang terlihat lebih sukses dibanding kemarin.
Tetapi ada satu hal yang sering tidak ikut tampil di layar.
Perjuangan.
Yang terlihat hanya hasil akhirnya.
Yang tidak terdengar adalah malam-malam panjang yang mereka lalui.
Yang tidak terasa adalah kecemasan yang mereka sembunyikan.
Yang tidak muncul adalah kegagalan yang berkali-kali mereka telan sebelum akhirnya berhasil berdiri kembali.
Akibatnya, ruang digital sering berubah menjadi tempat orang saling membandingkan hidup.
Saling menilai.
Kadang-kadang juga saling mencurigai.
Saya diam cukup lama ketika memikirkan hal itu.
Bukankah persatuan sering kali tidak runtuh karena perbedaan yang besar?
Kadang ia retak justru karena hal-hal kecil yang terus dibiarkan tumbuh.
Prasangka.
Rasa iri yang tidak pernah diakui.
Keengganan memahami pengalaman hidup orang lain.
Dalam dunia usaha pun rasanya tidak jauh berbeda.
Selama beberapa tahun terakhir saya belajar bahwa bisnis yang sehat tidak hanya dibangun oleh strategi, promosi, atau angka penjualan.
Bisnis tumbuh karena hubungan antarmanusia.
Karena kepercayaan.
Karena kemampuan bekerja sama dengan orang-orang yang mungkin berbeda karakter, berbeda kebiasaan, bahkan berbeda cara berpikir.
Barangkali itu sebabnya saya cukup menyukai gagasan Healthy Body, Healthy Business.
Bukan hanya karena tubuh yang sehat membantu kita bekerja lebih baik.
Tetapi juga karena manusia yang sehat—secara fisik maupun batin—biasanya lebih mampu mendengar, memahami, dan menghargai orang lain.
Badan yang terlalu lelah sering membuat emosi lebih mudah tersulut.
Pikiran yang terlalu penuh sering membuat kita kehilangan kesabaran.
Dan ketika kemampuan mendengar mulai hilang, banyak hal baik perlahan ikut menjauh.
Pagi ini saya kembali memikirkan semua itu.
Tentang Pancasila.
Tentang keberagaman.
Tentang orang-orang yang tetap berusaha mencari nafkah dengan cara yang baik.
Tentang pelaku UMKM yang membuka toko sejak subuh.
Tentang pekerja yang berangkat sebelum matahari benar-benar tinggi.
Tentang para penyandang disabilitas yang masih terus memperjuangkan ruang yang setara.
Tentang mereka yang diam-diam masih percaya bahwa gotong royong belum benar-benar hilang dari negeri ini.
Di luar sana suara kendaraan mulai terdengar lebih ramai dibanding beberapa jam lalu.
Hari bergerak seperti biasa.
Orang-orang kembali bekerja.
Ada yang Berjualan.
Membuat konten.
Menghadiri rapat.
Mengejar target.
Menjalani hidup yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Ponsel saya kembali bergetar.
Ada pesan baru yang masuk.
Kopi di cangkir sudah tidak lagi sepanas tadi.
Dan saya masih memikirkan satu pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Di tengah dunia yang semakin cepat menilai dan semakin mudah membandingkan, apakah nilai-nilai yang sering kita sebut setiap tanggal 1 Juni itu masih benar-benar hidup di antara kita?
Atau mungkin sebenarnya ia masih ada, hanya bekerja dalam diam, lewat orang-orang biasa yang tetap memilih menghormati sesama ketika tidak ada yang sedang melihat.
Saya tidak tahu.
Posting Komentar