Table of Contents
Ketika Hidup Tidak Hancur Sekaligus, Melainkan Pelan-Pelan
Ada hal yang kadang saya pikirkan cukup lama: ternyata hidup tidak selalu berubah karena keputusan besar. Kadang hidup berubah hanya karena beberapa detik yang datang tanpa izin.
Beberapa detik.
Lalu sesudahnya, tidak ada yang benar-benar sama lagi.
Saya mencoba membayangkan pagi itu. Mungkin ada suara pintu rumah yang mulai dibuka, bunyi peralatan dapur dari kejauhan, atau suasana pagi yang masih setengah mengantuk. Hal-hal kecil yang biasanya terasa biasa saja karena kita mengira semuanya akan tetap ada esok hari.
Sampai tanah tiba-tiba bergerak.
Saya membiarkan pikiran itu tinggal beberapa saat ketika membaca kisah Sutrisno Trimek.
Entah kenapa, yang terus tertinggal di kepala saya bukan soal usahanya yang sekarang punya banyak pelanggan. Bukan juga tentang kiosnya. Bukan tentang bagaimana akhirnya ia berhasil.
Yang tinggal justru kalimat ini:
"Dulu bekerja membuat meja dan kursi dan mampu berjalan ke mana saja dengan kedua kakinya."
Mampu berjalan ke mana saja.
Bagi sebagian orang, mungkin itu terdengar seperti hal yang terlalu biasa sampai tidak pernah dipikirkan.
Tetapi saya seorang netra. Saya tahu ada hal-hal yang baru terasa besar ketika tidak lagi dimiliki.
Barangkali karena itu saya cukup lama memikirkan kalimat tadi.
Saya mengenali banyak hal melalui suara langkah, tekstur lantai di bawah kaki, arah angin yang berubah ketika memasuki gang sempit, atau aroma gorengan dari warung dekat pertigaan. Dari situ saya belajar bahwa ada hal-hal yang terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi bagian penting dari hidup seseorang.
Mungkin karena itu saya terus memikirkan seseorang yang sebelumnya bebas bergerak ke mana saja, lalu dalam hitungan detik harus menerima bahwa tubuhnya tidak lagi bekerja seperti sebelumnya.
Saya mencoba membayangkan suara tenda terpal yang bergerak tertiup angin malam.
Kresek...
Kresek...
Udara dingin masuk dari sela-sela.
Tubuh masih menahan nyeri.
Rumah sudah tidak ada.
Dan seseorang sedang berbaring sambil memikirkan satu hal yang mungkin terlalu berat untuk dipikirkan siapa pun:
"Bagaimana hidup saya setelah ini?"
Saya rasa banyak orang mengira bagian tersulit dari bencana adalah saat tanah berguncang.
Padahal mungkin tidak selalu begitu.
Bagian tersulit bisa jadi justru datang sesudah semuanya tenang.
Ketika suara ambulans sudah berhenti.
Ketika relawan mulai pulang.
Ketika berita mulai membahas hal lain.
Lalu seseorang harus belajar hidup lagi dari awal.
Belajar menerima tubuh baru.
Belajar menerima rasa sakit yang tidak hilang.
Belajar menerima tatapan orang.
Belajar menerima dirinya sendiri.
Dan saya pikir, menerima diri sendiri kadang pekerjaan paling melelahkan.
Karena rasa sakit tidak selalu bersuara.
Ada luka yang tidak mengeluarkan darah tetapi menetap bertahun-tahun.
Ada nyeri yang tidak terlihat tetapi ikut tidur bersama kita setiap malam.
Ada kelelahan yang bahkan tidak tahu cara menjelaskannya kepada orang lain.
Saya rasa masyarakat kita kadang terlalu cepat menilai keadaan seseorang dari apa yang terlihat di permukaan.
Kalau seseorang tersenyum, dianggap baik-baik saja.
Kalau seseorang masih bekerja, dianggap kuat.
Kalau seseorang tampak tenang, dianggap sudah selesai dengan lukanya.
Padahal tidak begitu.
Dan mungkin karena itu gerakan disabilitas di berbagai tempat melahirkan kalimat yang terus dipegang sampai hari ini:
"Nothing About Us Without Us."
Karena terlalu sering kehidupan difabel hanya dilihat dari luar. Dilihat sebagai cerita sedih. Atau cerita inspirasi.
Padahal di tengahnya ada kehidupan yang jauh lebih rumit.
Ada nyeri tulang belakang yang datang ketika udara dingin.
Ada rasa tidak percaya diri yang kadang muncul di tengah keramaian.
Ada kecemasan tentang masa tua.
Ada tagihan.
Ada keluarga.
Ada rasa takut.
Ada hal-hal yang sangat manusiawi.
Saya kembali memikirkan satu bagian dari kisah Sutrisno.
Ia pernah berada di titik ketika menahan rasa sakit terasa sangat berat.
Lalu saya teringat kalimat dari neneknya:
"Kalau aku nanti meninggal, siapa yang akan merawatmu kalau kamu tidak mandiri, le?"
Kadang hidup memang aneh.
Bukan kata-kata panjang yang paling lama tinggal di kepala.
Kadang justru kalimat sederhana yang diucapkan pelan.
Kalimat yang datang dari seseorang yang mencemaskan kita.
Dan sampai malam ini, saya masih memikirkan satu hal.
Mungkin menjadi kuat bukan berarti tidak pernah hancur.
Mungkin menjadi kuat adalah ketika seseorang masih mau bergerak pelan-pelan, meskipun tubuhnya masih menyimpan rasa sakit yang tidak pernah benar-benar pergi.
Karena tidak semua perjuangan mengeluarkan suara.
Posting Komentar