Table of Contents
## Dunia yang Riuh, Tongkat yang Mengetuk, dan Alasan Mengapa Saya Memilih Lebih Banyak Diam
Malam ini, udara di luar terasa agak dingin. Angin berembus dari arah jendela sebelah kiri, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Di dalam kamar yang hening ini, hanya ada suara ketukan jemari saya pada keyboard laptop yang mengaktifkan *screen reader*. Suara robotik dari komputer melafalkan setiap huruf yang saya ketik dengan kecepatan tinggi, sebuah suara yang bagi orang lain mungkin bising, tapi bagi saya adalah ruang aman untuk berpikir.
Saya terdiam sebentar.
Akhir-akhir ini, lini masa media sosial saya—yang dibacakan oleh aplikasi pembaca layar—terasa sangat penuh. Semua orang seperti sedang berteriak. Semua orang ingin terdengar. Ada semacam perlombaan tak tertulis tentang siapa yang paling cepat merespons isu, siapa yang paling lantang bersuara, dan siapa yang terlihat paling pintar di depan publik.
Dulu, saya sempat berpikir bahwa untuk diakui, saya harus ikut berteriak. Sebagai seorang disabilitas netra, ada ketakutan bawah sadar bahwa jika saya diam, saya akan tenggelam dan dianggap tidak ada.
Namun, belakangan ini saya menyadari sesuatu.
Setiap kali saya berjalan menyusuri trotoar kota dengan tongkat putih di tangan kanan, seluruh indra saya dipaksa bekerja berkali-kali lipat. Ujung tongkat memantul di atas *guiding block* yang bertekstur garis dan bulatan. *Tek... tek... tek...* Suara klakson bersahutan dari arah kanan, deru mesin angkot yang bergetar di aspal, hingga obrolan orang-orang di warung kopi yang terlewati.
Dalam kondisi seperti itu, jika saya sibuk berbicara atau membalas teriakan orang di jalan, saya akan kehilangan fokus. Saya bisa melewatkan suara desis ban mobil yang mendekat, atau gagal merasakan perubahan tekstur tanah yang menandakan ada lubang di depan.
Untuk bisa selamat sampai tujuan, saya harus lebih banyak mendengar. Saya harus mengamati lewat telinga, kulit, dan telapak kaki.
Ternyata, hidup dan masa depan pun berjalan dengan cara yang mirip.
Orang-orang yang benar-benar serius membangun masa depannya, dari apa yang saya perhatikan selama ini, justru sering kali adalah mereka yang paling tenang. Mereka tidak sibuk meyakinkan dunia bahwa mereka hebat.
Bukan karena mereka tidak memiliki pendapat.
Bukan juga karena mereka takut.
Tetapi karena mereka memahami bahwa menyerap jauh lebih penting daripada sekadar memuntahkan kata-kata agar terlihat pintar.
Ada sebuah kedewasaan yang lahir justru ketika kita menahan diri untuk tidak langsung berkomentar. Ketika ujung tongkat saya membentur tiang listrik yang dipasang sembarangan di tengah trotoar—sebuah ego tata kota yang egois—reaksi pertama saya mungkin ingin memaki. Tapi makian tidak mengubah posisi tiang itu. Saya harus meraba sisinya, mencari celah, belajar bagaimana melewatinya, dan mencatatnya dalam ingatan agar besok saya tidak terbentur lagi.
Itulah proses belajar. Ia sunyi, sering kali tidak nyaman, dan jarang terlihat keren di media sosial.
Di dunia aktivisme disabilitas yang saya geluti, kami akrab dengan jargon *"Nothing About Us Without Us"*—tidak ada hal tentang kami tanpa melibatkan kami. Sebuah kredo perjuangan akar rumput yang lahir dari ruang-ruang diskusi, dari keringat para pendahulu yang menuntut hak-hak dasar.
Namun, saya merenung, bagaimana kita bisa membawa narasi itu dengan kuat jika kita sendiri jarang duduk diam untuk benar-benar belajar dan memetakan masalah? Perjuangan bukan cuma soal berorasi di depan mikrofon yang suaranya pecah. Perjuangan adalah tentang ketekunan membaca regulasi, mendengarkan keluhan teman-teman sesama difabel di lapis bawah, dan memperbaiki strategi secara terus-menerus.
Sering kali, mereka yang paling bising di permukaan justru yang paling sedikit membaca.
Saya menghentikan ketukan jari saya.
Suara *screen reader* mendadak berhenti, menyisakan keheningan yang pekat di ruangan ini. Di luar, suara kendaraan mulai menyusut, digantikan oleh jangkrik yang berbunyi konstan dari arah halaman.
Menjadi pintar itu mudah, atau setidaknya, *terlihat* pintar itu mudah di zaman sekarang. Tinggal salin-tempel kutipan tokoh, lalu bicarakan dengan nada tinggi. Namun, menjadi dewasa dan bijaksana membutuhkan proses mengunyah pengalaman yang sering kali membosankan.
Entah kenapa, saya merasa beruntung dengan cara dunia membentuk saya. Ketiadaan visual memaksa saya untuk tidak terkelabuhi oleh kemasan luar yang berkilau. Saya harus mendengarkan intonasi suara, jeda napas orang yang berbicara, dan ketulusan yang bergetar di dalamnya.
Masa depan tidak dibangun dari seberapa banyak kita berdebat di ruang publik. Ia dibangun di ruang-ruang sunyi, saat kita memilih untuk membuka telinga lebih lebar dan mengecilkan volume suara kita sendiri.
Kopi di meja saya sudah dingin, tekstur cangkirnya terasa kesat saat saya raba. Saya rasa, renungan malam ini cukup sampai di sini dulu. Laptop ini akan saya tutup, dan saya ingin kembali mendengarkan malam.
Bagaimana dengan Anda? Kapan terakhir kali Anda memilih diam dan benar-benar mendengarkan sekitar?
Posting Komentar