Table of Contents
Barangkali Kita Terlalu Cepat Menilai: Tentang Sabar yang Senyap dan Cerita yang Tak Terdengar
Pagi ini hawanya terasa bersih dan agak dingin. Sisa embun subuh di akhir Mei tampaknya belum menguap sepenuhnya dari dedaunan di luar, membawa aroma tanah basah yang samar-samar masuk lewat celah ventilasi beranda. Di luar, suara burung ketilang mulai riuh di dahan pohon mangga, saling bersahutan memecah sisa keheningan fajar.
Saya menyesap kopi susu hangat pertama saya hari ini. Manisnya pas, dan hangatnya cangkir keramik yang menempel di telapak tangan terasa menenangkan, sebelum saya beralih meraih ponsel Android yang tergeletak di sebelah cangkir.
Saya tertegun cukup lama.
Ibu jari saya diam di atas permukaan layar kaca yang licin. Tidak ada tombol fisik yang membalas tekanan, hanya suara ketukan lembut dari fitur *screen reader* TalkBack yang berbisik cepat lewat lubang *speaker*, mengeja setiap huruf yang disentuh oleh ujung jari saya.
Ada satu pikiran yang mengganjal sejak kemarin malam, setelah seorang kawan lama menelepon dan menumpahkan kekesalannya tentang hidup seseorang yang dia lihat di media sosial. Kawan saya bilang, dengan nada suara yang meninggi dan penuh letupan emosi, *"Si A itu hidupnya kok enak banget ya, Di. Kayaknya semua urusannya gampang, jalannya mulus. Ga kayak kita yang harus babak belur begini."*
Saya diam beberapa detik.
Waktu dia bicara begitu, saya hanya mendengarkan helaan napasnya yang berat dan patah-patah di seberang telepon. Ada getaran kecemburuan yang pekat di sana. Sebuah fenomena sosial yang hari ini rasanya makin bising kita dengar: kita begitu mudah melihat "permukaan" hidup orang lain yang tampak berkilau lewat linimasa, lalu dengan cepat membandingkannya dengan ruang paling gelap di dalam diri kita sendiri.
Tapi, benarkah hidup seseorang semudah itu?
Dunia saya adalah dunia yang tidak mengandalkan mata untuk melihat. Bagi seorang difabel netra seperti saya, untuk memahami sebuah ruang baru, saya harus meraba teksturnya dengan teliti, mendengarkan gema langkah, dan merasakan dari mana arah angin berembus. Saya tidak bisa—dan tidak akan pernah bisa—menilai isi sebuah rumah hanya dari satu langkah pertama di depan pintu.
Begitu juga dengan lapisan hidup manusia.
Barangkali kita memang terlalu cepat menilai. Kita sering kali lupa bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu cerita utuh di balik kehidupan seseorang.
Mungkin saja, Allah membalas kemudahan bagi dia sekarang, karena dia sudah pernah melewati masa-masa runtuh dan kesusahan yang teramat sangat—yang kita sendiri tidak pernah mendengar ceritanya. Kita hanya datang saat fajar sudah terbit dan hari sudah terang, tanpa pernah tahu seberapa dingin, pekat, dan mencekamnya malam yang baru saja dia lalui sendirian.
Saya jadi teringat tahun-tahun awal ketika saya kehilangan penglihatan total. Waktu itu, dunia rasanya seperti runtuh tanpa sisa. Setiap benturan ujung tongkat putih saya pada tiang listrik, setiap langkah yang tersandung undakan trotoar, hingga bisikan kasihan yang samar-samar tertangkap telinga saya saat berjalan, rasanya seperti sayatan. Ada masa-masa panjang di mana saya hanya bisa menangis dalam sujud yang senyap, ditemani detak jam dinding yang monoton, tanpa ada satu orang pun yang tahu. Hanya saya dan Allah yang memeluk ruang sunyi itu.
Sekarang, ketika orang melihat saya bisa mandiri, aktif menyuarakan isu disabilitas di gerakan akar rumput, dan lancar membalas pesan atau menulis lewat ponsel, beberapa orang berbisik, *"Hadi mah hebat, jalannya sekarang sudah enak."*
Mereka tidak salah melihat apa yang ada sekarang. Tapi mereka tidak pernah tahu tentang sabar yang berdarah-darah di masa lalu.
Itulah mengapa dalam gerakan, kami selalu memegang teguh prinsip *Nothing About Us Without Us*—jangan pernah memutuskan atau membicarakan tentang kami tanpa melibatkan kami. Karena esensinya sama: kamu tidak akan pernah bisa benar-benar memahami sebuah perjuangan jika kamu tidak pernah berada di dalam situasi orang tersebut, atau dalam kasus saya, berjalan dengan ketukan tongkat yang sama.
Maka, rasanya egois sekali kalau kita begitu mudah menaruh iri pada hidup orang lain.
Setiap orang punya porsi ujian dan nilai perjuangannya masing-masing. Ada yang ujiannya berwujud kehilangan, ada yang berwujud penantian panjang, dan ada pula yang justru diuji dengan kelapangan yang menipu. Bisa jadi, apa yang hari ini terlihat begitu indah dan berkilau di matamu, adalah hasil dari sabar panjang yang diam-diam dia lewati bersama Allah di sudut kamar yang paling sepi. Sebuah perjanjian suci antara hamba dan Penciptanya yang tidak butuh validasi dari penonton media sosial.
Sisa kehangatan di cangkir kopi susu saya perlahan menyusut, digantikan oleh hawa pagi yang mulai beranjak siang.
Di luar, suara deru motor dari jalan raya depan gang mulai ramai bersahutan, menandakan orang-orang sudah mulai bergegas mengejar urusan mereka masing-masing. Saya menarik napas dalam-dalam, merasakan sisa udara dingin yang masuk ke dada.
Entahlah... mungkin kita semua hanya perlu belajar untuk lebih banyak mendengarkan ketimbang sibuk menyimpulkan. Menurunkan sedikit ego, lalu melapangkan dada untuk menerima bahwa skenario hidup ini bukan cuma berputar di sekitar diri kita sendiri.
Saya mengunci layar ponsel. Bunyi *klik* pendek dari sistem Android menandakan layar sudah mati, memutus suara TalkBack dan mengembalikan keheningan pagi ini, meninggalkan sisa rasa manis di lidah dan sejumput tanya yang belum benar-benar selesai.
Posting Komentar