Table of Contents
PELANGI DIJATISARI Bab 7: Suara yang Terkoyak
Malam setelah pertemuan di balai desa, Jatisari terasa seperti desa yang kehilangan suara. Orang-orang pulang dengan wajah penuh pertanyaan. Ada yang merasa lega karena mulai ada jalan hukum, ada yang semakin ragu karena janji perusahaan tampak begitu nyata.
Aisha duduk di beranda, menatap sawah yang gelap. “Kadang aku merasa suara kita terlalu kecil,” bisiknya. Damar menatapnya, lalu menjawab pelan, “Suara kecil bisa jadi besar kalau kita berani menjaganya.”
Hari-hari berikutnya, retakan mulai terlihat.
- Sebagian warga mendukung perjuangan mempertahankan tanah.
- Sebagian lain mulai condong ke perusahaan, tergoda oleh janji pembangunan.
- Ada pula yang memilih diam, takut kehilangan teman atau keluarga.
Suara-suara yang tadinya bersatu kini mulai terkoyak.
Seorang bapak tua berkata di warung Bu Mariyah, “Aku ingin ikut kalian, tapi anakku bilang lebih baik kita terima uang itu. Aku takut kehilangan keluargaku sendiri.”
Kata-kata itu membuat Aisha terdiam. Ia sadar perjuangan ini bukan hanya melawan perusahaan, tapi juga melawan rasa takut yang tumbuh di hati warga.
Perusahaan semakin gencar. Mereka mengirim surat resmi, menempelkan pengumuman di balai desa, bahkan mengundang media untuk menyiarkan janji-janji mereka.
“Kalau kalian menolak, kalian akan disebut menghambat pembangunan,” kata seorang pejabat yang datang bersama rombongan perusahaan.
Damar mengepalkan tangan, tapi suaranya tetap tenang. “Kalau pembangunan berarti menghapus desa, itu bukan pembangunan. Itu perampasan.”
Di tengah ketegangan, Aldi dan beberapa pemuda mulai bergerak. Mereka membuat selebaran sederhana, menuliskan hak-hak warga, lalu membagikannya dari rumah ke rumah.
“Kalau kita tahu hak kita, kita tidak akan mudah dibungkam,” kata Aldi dengan semangat.
Aisha melihat anak muda itu, matanya berbinar. “Suara kecil ini bisa jadi harapan besar,” bisiknya pada Damar.
Malam itu, suara-suara di Jatisari memang terkoyak. Ada yang memilih diam, ada yang memilih menyerah, ada yang tetap bertahan. Tapi di balik semua itu, ada suara kecil yang terus berusaha tumbuh.
Suara yang mungkin rapuh, tapi penuh kejujuran.
Suara yang mungkin kecil, tapi bisa menjadi cahaya.
❣️ Suara yang mungkin terkoyak, tapi tidak pernah benar-benar hilang.
Dan di langit Jatisari, pelangi seakan menunggu badai reda—untuk kembali menunjukkan bahwa warna tidak pernah hilang, hanya menunggu waktu untuk muncul.
Posting Komentar