Table of Contents
🌈 Pelangi di Jatisari
Bab 8: Cahaya yang Dicoba Padamkan
Pagi itu, Jatisari diselimuti kabut tipis. Suara ayam berkokok terdengar sayup, seolah enggan membangunkan desa yang sedang gelisah. Di balai desa, papan pengumuman penuh dengan selebaran perusahaan yang menjanjikan “masa depan cerah” bagi warga.
Namun di sudut lain, selebaran buatan Aldi dan para pemuda juga menempel, berisi hak-hak warga yang tak boleh diabaikan. Dua suara berbeda kini berdiri berdampingan, saling menantang.
🥀 Aisha berjalan melewati papan itu, hatinya bergetar. “Seperti cahaya yang dicoba padamkan,” gumamnya. Damar menoleh, menatap matanya yang penuh keraguan. “Kalau cahaya itu benar, ia akan tetap bersinar, meski ada yang mencoba menutupinya.”
Hari-hari berikutnya, tekanan semakin terasa.
- Perusahaan mengirim orang-orang berseragam, berdiri di jalan desa, seakan mengawasi setiap langkah.
- Beberapa warga mulai menerima amplop kecil berisi uang, diam-diam, dengan wajah tertunduk.
- Ada bisikan bahwa siapa pun yang menolak akan dicap sebagai pengganggu pembangunan.
Di warung Bu Mariyah, suara-suara beradu.
“Kalau kita menolak, kita bisa kehilangan segalanya,” kata seorang ibu muda dengan mata cemas.
“Tapi kalau kita menyerah, kita kehilangan desa kita,” jawab Aldi dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan.
🌿 Malam itu, Aisha menulis di buku catatannya:
“Suara kita memang kecil, tapi ia lahir dari kejujuran. Dan kejujuran, meski dicoba padamkan, akan tetap mencari jalan untuk bersinar.”
Damar membaca tulisan itu, lalu menambahkan kalimat singkat:
“Pelangi hanya muncul setelah hujan. Jangan takut pada badai, karena ia membawa warna.”
Di Jatisari, cahaya kecil itu terus berusaha bertahan.
Cahaya yang mungkin redup, tapi tak pernah benar-benar padam.
Cahaya yang lahir dari keberanian, meski dikepung oleh ketakutan.
Dan di langit yang masih berawan, pelangi seakan berbisik:
“Aku akan kembali, jika kalian berani menjaga warna kalian.”
Posting Komentar