Table of Contents
Pelatihan Difabel di Makassar: Dari Ruang Hotel ke Ruang Harapan Kota
Makassar, sinergi hadi sejahtera
10–11 Desember 2025 — Di sebuah ruang pertemuan Hotel Grand Maleo, suara-suara yang sering kali terpinggirkan kini menemukan panggungnya. Yayasan Kota Kita menggelar pelatihan bagi 10 organisasi difabel di Kota Makassar. Selama dua hari, para peserta tidak hanya belajar tentang advokasi berbasis bukti, pemetaan ulang visi dan misi organisasi, serta pengenalan hak difabel, tetapi juga diajak menatap lebih jauh: bagaimana hak-hak itu terhubung dengan wajah pembangunan kota.
“Kita harus tahu apa yang kita perjuangkan dan bagaimana agar perjuangan itu berhasil,” ujar Kirana, salah satu pemateri.
Pelatihan ini bukan sekadar agenda teknis. Ia adalah cermin yang memantulkan pertanyaan mendasar: sejauh mana kota benar-benar hadir untuk warganya yang difabel? Penundaan akses, keterbatasan ruang partisipasi, dan minimnya data yang berpihak sering kali membuat perjuangan difabel berjalan di lorong gelap. Maka, sesi demi sesi menjadi ruang refleksi: bahwa perjuangan bukan hanya tentang “masuk” ke dalam sistem, tetapi tentang mengubah sistem agar lebih manusiawi.
Meski pemerintah kota kerap menggaungkan jargon inklusi, realitas di lapangan masih jauh dari ideal. Infrastruktur publik belum sepenuhnya ramah difabel, kebijakan sering berhenti di atas kertas, dan data tentang kebutuhan difabel masih tercecer. Pelatihan ini menyingkap kelemahan itu dengan tajam: advokasi tanpa data akan rapuh, strategi tanpa visi akan kehilangan arah.
Bakri, salah satu peserta, mengaku baru memahami peran paralegal dan pentingnya advokasi berbasis bukti. “Pelatihan ini membuat saya jadi tahu lebih banyak. Paralegal itu apa, advokasi, dan masih banyak lagi,” ungkapnya. Pernyataan ini menyoroti celah besar: minimnya akses informasi dan kapasitas yang seharusnya sudah lama menjadi prioritas kebijakan.
Kegiatan ini tidak berhenti pada kritik dan teori. Setiap organisasi difabel diajak melakukan analisis isu, mengidentifikasi kebutuhan anggotanya, dan merumuskan langkah strategis sesuai bidang kerja masing-masing. Pendekatan berbasis data menjadi solusi konkret: bukan sekadar menyuarakan aspirasi, tetapi menyajikan argumen kebijakan yang kuat dan tak terbantahkan.
Rencana tindak lanjut yang disusun peserta menjadi bukti bahwa pelatihan ini bukan sekadar seremonial. Ia adalah benih yang bisa tumbuh menjadi gerakan advokasi berkelanjutan, dengan akar yang tertanam dalam kebutuhan nyata komunitas difabel.
Pelatihan ini menempatkan pengalaman difabel sebagai inti. Bukan sekadar objek kebijakan, mereka adalah subjek yang berhak menentukan arah perjuangan. Dengan melibatkan 10 organisasi difabel, kegiatan ini menegaskan bahwa inklusi bukanlah belas kasihan, melainkan pengakuan atas martabat manusia.
Pelatihan ditutup dengan rangkuman hasil belajar dan pendataan rencana tindak lanjut. Namun, yang lebih penting adalah harapan yang dibawa pulang oleh para peserta: bahwa perjuangan difabel tidak berhenti di ruang hotel, melainkan harus menembus ruang-ruang kebijakan kota. Yayasan Kota Kita berkomitmen menjadikan kegiatan ini rutin hingga pertengahan 2026.
Harapan besar pun lahir: agar gerakan difabel tidak sekadar menjadi slogan inklusi, tetapi menjadi denyut nyata pembangunan kota. Sebab, kota yang adil adalah kota yang mendengar semua warganya — termasuk mereka yang selama ini sering diabaikan.
Posting Komentar