Table of Contents
❝Bianglala yang Memudar❞
Di cakrawala yang gelap aku melihat bianglala yang memudar,
laksana asa yang sirna setelah varsha yang tak henti-henti
meninggalkan renjana yang penuh nestapa.
Langit menjadi kitab luka,
setiap tetes hujan adalah aksara duka
yang menuliskan elegi di halaman jiwa.
Aku berjalan di lorong waktu,
di mana bayangan menjadi teman,
dan sunyi menjadi bahasa yang paling fasih.
Setiap langkahku adalah gema yang pecah,
menyisakan serpihan suara
yang tak pernah sampai ke telinga semesta.
Bintang-bintang enggan menyalakan lentera,
seakan takut pada gulita yang menelan segalanya.
Bulan merunduk di balik tirai awan,
menyembunyikan wajah pucatnya
dari mata yang haus cahaya.
Aku pun bertanya pada diriku sendiri:
apakah cahaya memang selalu kalah
ketika hujan tak berhenti mengetuk pintu malam?
Renjana yang dulu berkilau,
kini layu seperti bunga di musim kemarau.
Kelopaknya gugur satu per satu,
menjadi debu yang beterbangan,
menyatu dengan angin kehilangan.
Aku meraba pelangi yang hilang,
warnanya lenyap ditelan kabut,
tinggal garis samar di cakrawala,
seperti janji yang tak pernah ditepati,
menggantung di langit tanpa suara.
Nestapa menari di mataku,
bagai bayangan api yang redup,
membakar perlahan tanpa nyala,
meninggalkan arang di dada
yang tak bisa padam oleh waktu.
Namun di balik gulita,
ada bisikan halus yang datang,
seperti embun di ujung daun,
menyentuh lembut luka lama,
membawa aroma pengharapan.
Aku mendengar suara bumi,
berdendang lirih dalam hujan,
menyebut nama-nama rahasia
yang tersimpan di akar kehidupan,
menyuruhku untuk tetap bertahan.
Bianglala mungkin memudar,
namun warnanya tak pernah mati.
Ia bersembunyi di balik kabut,
menunggu matahari kembali,
untuk lahir lagi dalam cahaya.
Aku pun belajar percaya,
bahwa setiap nestapa adalah benih,
yang tumbuh menjadi bunga baru.
Meski kelopaknya basah air mata,
ia tetap mekar dalam jiwa.
Di cakrawala yang gelap,
aku masih melihat bianglala,
meski samar, meski redup,
ia adalah janji semesta
bahwa asa tak pernah benar-benar sirna.
Aku menulis puisi ini dengan tinta hujan,
membiarkan setiap kata mengalir
seperti sungai yang mencari muara.
Di dalamnya ada perahu kecil
yang membawa segala kenangan,
ada dayung yang terbuat dari doa,
dan ada ombak yang lahir dari rindu.
Aku hanyut di dalamnya,
tak tahu ke mana arus akan membawaku,
namun aku percaya,
setiap sungai akhirnya bertemu laut.
Laut itu adalah dirimu,
yang menunggu di ujung horizon,
dengan mata yang menyimpan cahaya,
meski langit sedang muram.
Aku ingin tenggelam di dalam tatapanmu,
seperti ikan yang kembali ke samudra,
seperti hujan yang kembali ke awan.
Di sana aku akan menemukan rumah,
tempat di mana bianglala
tak pernah benar-benar memudar.
Aku tahu, hidup adalah perjalanan,
kadang kita harus melewati badai,
kadang kita harus kehilangan arah,
kadang kita harus merasakan nestapa
agar tahu arti bahagia.
Seperti bunga yang harus layu
agar benihnya bisa tumbuh kembali,
seperti pelangi yang harus hilang
agar kita merindukan warnanya.
Segala yang sirna
adalah janji akan kelahiran baru.
Maka aku biarkan hujan menulis di tubuhku,
aku biarkan angin menyisir rambutku,
aku biarkan gulita merangkulku,
sebab aku tahu,
di balik semua itu ada cahaya
yang sedang menunggu giliran.
Bianglala mungkin memudar,
namun ia tak pernah mati.
Ia hanya bersembunyi,
menunggu saat yang tepat
untuk kembali menari di langit.
Dan ketika saat itu tiba,
aku akan berdiri di bawahnya,
menatap warna-warna yang kembali,
menyambut janji yang ditepati,
menyulam asa yang lahir kembali.
Aku akan tahu,
bahwa segala nestapa
hanyalah jalan menuju cahaya.
Bahwa segala kehilangan
adalah cara semesta mengajarkan arti memiliki.
Di cakrawala yang gelap,
aku melihat bianglala yang memudar.
Namun di dalam hatiku,
aku melihat bianglala yang lahir kembali.
Ia bukan sekadar warna di langit,
ia adalah doa yang menjelma cahaya,
ia adalah luka yang menjelma bunga,
ia adalah rindu yang menjelma rumah.
Dan aku pun percaya,
bahwa asa tak pernah benar-benar sirna.
🌌 Cipayung – Jakarta Timur
Dituliskan Abdul Hadi DIVA: di atas kanvas pikiran, dengan cahaya doa, tinta rindu, dan jejak waktu yang abadi ✨ ❤️ 🌿 🕊️ 🌈
Posting Komentar