Table of Contents
*Pelangi di Langit Jatisari*
*Bab 4: Ombak di Sawah*
Pagi itu, Jatisari terasa lebih sunyi dari biasanya. Tak ada suara bapak-bapak yang bercanda di warung, tak ada riuh rendah obrolan di tepi sawah. Semuanya terasa menggantung, seolah desa sedang menahan napas sebelum benar-benar berbicara.
Aisha duduk di beranda, melihat Damar yang sudah bersiap dengan sepatu botnya. Ada ketegangan di udara—ketegangan yang tak terlihat, tapi bisa dirasakan seperti listrik yang berdesir di bawah kulit.
“Pak Slamet bilang ada yang ingin menggelar aksi di lapangan desa,” kata Damar pelan.
Aisha menegakkan punggungnya. “Aksi?”
Damar mengangguk. “Bukan protes, lebih seperti pernyataan sikap. Mereka ingin menunjukkan bahwa desa ini tidak boleh dijual tanpa suara semua orang.”
Aisha tahu ini berbahaya. Sejak pertemuan di balai desa, kabar tentang ketidakpuasan mulai menyebar. Beberapa orang takut mereka akan dikucilkan jika bersuara terlalu keras. Yang lain khawatir akan ada pihak luar yang mulai ikut campur.
Namun di tengah semua itu, ada keinginan untuk tetap berdiri tegak.
Siang itu, di lapangan desa, lebih dari dua puluh orang berkumpul. Bukan dengan spanduk atau seruan keras, tetapi dengan kehadiran mereka yang diam—tanda bahwa mereka belum menyerah.
Pak Lurah Harjo datang dengan wajah yang sulit dibaca. Ia melihat satu per satu warga yang berdiri, lalu menghela napas dalam. “Aku tahu kita semua ingin mempertahankan apa yang kita miliki,” katanya. “Tapi aku juga tahu bahwa kita tidak bisa hanya bertahan tanpa rencana.”
Damar maju selangkah. “Kami punya rencana, Pak Lurah. Kami ingin mencari solusi yang tidak mengorbankan desa ini.”
Seorang pria dari kelompok yang lebih mendukung investor bersedekap. “Dan kalau tidak ada solusi? Apa kita harus tetap hidup dengan tanah yang semakin sulit menghasilkan panen?”
Aisha melihat Damar mengatup rahangnya. Ia tahu pertanyaan itu sulit dijawab. Tidak ada jaminan bahwa mempertahankan desa akan memberi mereka kehidupan yang lebih baik. Tapi ia juga tahu bahwa menjualnya bukan solusi yang seharusnya diambil tanpa perlawanan.
“Kalau tidak ada solusi,” kata Damar akhirnya, suaranya tenang tapi tegas, “kita menciptakannya.”
Hari-hari berlalu dengan ketegangan yang kian membesar. Jika sebelumnya diskusi masih berlangsung di ruang-ruang tertutup, kini mulai terdengar suara yang lebih keras. Beberapa pemuda mulai mengajak warga berdiskusi di warung-warung, di pematang sawah, bahkan di teras rumah.
“Aku dengar ada kelompok dari kota yang bersedia membantu kita memahami peraturan tentang hak tanah,” ujar Aldi dalam sebuah pertemuan kecil. “Mereka pernah membantu desa lain melawan pembangunan yang merugikan warga.”
Damar memperhatikan anak muda itu dengan penuh harapan. Ini langkah yang selama ini ditunggu—bantuan dari luar yang bisa memberi mereka perspektif lebih luas.
Di sisi lain, pihak perusahaan tidak tinggal diam. Mereka mulai menawarkan paket kompensasi yang lebih menarik. Tanah yang dijual akan dihargai lebih tinggi dari perkiraan awal, dan mereka menjanjikan pembangunan yang akan membuat desa lebih modern.
“Kalau kita bertahan, kita bisa kehilangan kesempatan ini,” kata seorang bapak tua di warung Bu Mariyah. “Kalau kita terima, setidaknya ada sesuatu yang bisa kita wariskan.”
Aisha mendengar percakapan itu dari sudut ruangan. Ia menelan ludah, merasakan ketakutan yang semakin nyata—ketakutan bahwa semakin lama mereka bertahan, semakin banyak orang yang akan memilih pergi.
Malam itu, Aisha dan Damar duduk di depan rumah, melihat langit yang mulai bersih setelah berminggu-minggu hujan.
“Kalau ini berlanjut, kita harus bersiap menghadapi lebih banyak tekanan,” kata Damar pelan.
Aisha menatapnya, lalu mengangguk. “Tapi aku tidak akan mundur.”
Dan begitu, perjuangan mereka memasuki babak baru. Tidak lagi hanya tentang mempertahankan tanah, tetapi tentang mempertahankan kepercayaan bahwa rumah mereka adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan angka.
Malam itu, terdengar ketukan di pintu rumah Aisha dan Damar. Saat dibuka, Pak Lurah Harjo berdiri di ambang, payungnya masih meneteskan sisa gerimis. Wajahnya tampak lelah.
“Aku tak lama,” katanya, menepis undangan masuk. “Hanya ingin memperingatkan.”
Aisha mengernyit. “Ada apa, Pak?”
Pak Lurah menunduk sebentar sebelum berbicara. “Pihak perusahaan akan datang besok, lengkap. Dengan media. Dengan surat-surat resmi. Mereka ingin pastikan bahwa semua yang menolak, akan disebut menghambat pembangunan.”
Damar mengepalkan tangan pelan, tapi suaranya tetap tenang. “Itu ancaman.”
“Bukan dariku,” kata Pak Lurah lirih. “Aku hanya tak mau kalian kaget.” Lalu ia menatap mereka berdua, penuh beban. “Jaga diri, Nak. Kadang, badai tak datang dari langit—tapi dari sesama.”
Keesokan paginya, halaman balai desa disulap jadi panggung kecil dengan spanduk dan kamera. Media lokal mulai merekam. Perusahaan berbicara soal “kemajuan”, “komitmen”, dan “masa depan cerah untuk Jatisari”.
Damar dan Aisha berdiri di tepi kerumunan. Mata mereka bertemu dengan Aldi, dengan Bu Mariyah, dengan Pak Slamet—mereka yang masih bertahan. Tapi jumlah mereka tidak sebanding dengan keramaian yang bersorak setiap kali janji diucapkan dari atas panggung.
Saat pembicara mulai mengangkat surat keputusan, Aisha melangkah maju. Tak ada pengeras suara. Tak ada podium. Hanya suara dari hati.
“Kami bukan angka dalam laporan tahunan. Kami adalah suara, akar, dan udara dari desa ini.”
Suasana mendadak senyap. Mikrofon yang sebelumnya sibuk mengulang janji kini hanya memantulkan gemetar angin.
“Saat kalian menilai tanah ini, kalian lupa menilai jiwanya,” lanjutnya. “Dan kami di sini… bukan untuk dijual.”
Langit yang mendung tak jadi hujan. Tapi ada ketegangan yang jatuh lebih berat daripada air.
Di malam yang sama, rumah mereka dilempari batu. Sebuah jendela pecah. Tak ada yang mengaku. Tak ada saksi. Hanya suara cepat langkah kaki di tanah basah dan luka kecil di tangan Aisha saat ia menyapu pecahannya.
Damar menenangkannya, meski dadanya sendiri bergetar. “Ini belum akhir.”
Posting Komentar