Table of Contents
*Pelangi di Langit Jatisari*
*Bab 3: Hujan di Tengah Musim*
Hujan turun lebih sering dari biasanya. Angin membawa aroma basah yang mengendap lama di teras rumah, dan tanah becek yang melekat di telapak kaki seperti enggan dilepaskan. Jatisari tampak sama—sawah, jalan setapak, langit kelabu—tetapi suasananya tak lagi tenang. Seperti tubuh yang tampak sehat namun diam-diam menyimpan demam.
Di dapur rumahnya, Aisha berdiri lama di depan tungku, membiarkan air mendidih lebih lama dari yang dibutuhkan. Di balik derik angin dan rintik hujan, pikirannya berkelana. Ia mendengar kabar bahwa beberapa warga telah menandatangani surat pelepasan tanah. Diam-diam, tanpa musyawarah, tanpa pamit.
“Pak Samijo juga?” bisiknya tadi siang pada Bu Mariyah.
Bu Mariyah hanya menjawab lirih, “Dua hektar. Besok katanya ke bank.”
Aisha merasa seperti kehilangan sesuatu yang tak terlihat. Bukan soal luasnya lahan, tapi lubang yang perlahan terbentuk di tubuh kolektif Jatisari.
Damar juga mulai berubah. Wajahnya lebih sering murung sepulang dari sawah. Rapat demi rapat digelar oleh kelompok tani, sebagian menggebu menolak investor, sebagian mengeluh soal utang dan harga pupuk. Suaranya mulai terpecah, dan di tengah suara itu, Damar harus memutuskan: bertahan sebagai penyambung akar, atau mundur sebagai suara yang kelelahan.
Suatu malam, suara hujan begitu deras, hampir mengalahkan denting sendok di cangkir. Aisha meletakkan tangannya di atas tangan Damar di meja makan.
“Kalau semua orang mulai menyerah… apakah kita harus tetap bertahan?”
Damar menatap matanya. Di situ ada keteguhan, tapi juga genting yang hampir patah.
“Kalau semua menyerah, justru kita yang harus tetap menyalakan lampu, meski cuma pelita,” jawabnya.
Aisha menelan ludah. Ia tahu jawaban itu bukan sekadar ucapan. Itu adalah jalan yang harus mereka jalani, meski tak ada jaminan cahaya di ujungnya.
Keesokan paginya, Aisha datang ke sekolah dengan wajah yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mengajar membaca dan berhitung. Ia membawa anak-anak ke kebun kosong di samping balai desa. Bersama mereka, ia menanam bibit cabai dan bunga matahari, sambil berbicara pelan tentang tanah, tentang warisan, tentang rumah.
“Tanah itu seperti tubuh kita,” ujarnya sambil menancapkan bibit. “Kalau kita rawat dengan cinta, ia akan tumbuh dan memberi. Tapi kalau kita jual… kita kehilangan bagian dari diri kita sendiri.”
Beberapa guru menegurnya—dinilai terlalu politis, terlalu sensitif. Tapi Aisha tahu: jika ingin menanam keyakinan baru, benih itu harus ditanam lebih dini.
Pada hari Sabtu yang dingin, Damar duduk sendiri di lumbung. Ia membaca ulang catatan rencana pertanian organik yang ia susun sejak awal. Hujan turun di luar, deras dan tanpa irama. Lalu ia menulis satu kalimat di kertas bekas:
_Kalau tanah ini pergi, siapa yang akan menceritakan kisahnya?_
Minggu berikutnya, sebuah kabar beredar seperti angin yang membawa hawa dingin ke sudut-sudut rumah: Pak Juwari, ketua kelompok tani yang dulu bersumpah untuk menjaga tanahnya sampai mati, dikabarkan telah menjual setengah ladangnya.
“Sudah tidak kuat,” ujar seseorang di warung. “Anaknya di kota butuh biaya kuliah. Siapa yang bisa menyalahkan?”
Desa tak lagi sekadar senyap; ia mulai menjadi ruang bisik-bisik dan pandang-pandangan waspada. Warga yang dulunya bersahabat kini saling menimbang kata. Apakah yang satu sudah ‘berpihak’? Apakah yang lain masih ‘bersetia’?
Damar merasakan perubahan itu bukan hanya di balai desa, tetapi bahkan ketika ia berjalan di pematang. Ada yang dulu menyapanya hangat kini hanya mengangguk ringan. Ada yang menunduk, pura-pura sibuk, meski langkah mereka saling bertemu.
Suatu sore, rapat desa digelar terbuka. Langit mendung menekan atap-atap rumah, dan angin meniup dedaunan kering ke halaman pendapa.
Pak Lurah Harjo membuka dengan suara datar, “Kita kumpul sore ini bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk memutuskan—apa yang ingin kita wariskan untuk anak-anak kita.”
Satu persatu warga bicara. Suara-suara mulai meninggi. Seorang bapak muda berseru, “Anak saya butuh masa depan! Kalau tanah ini dijual, minimal saya bisa sekolahkan mereka!”
“Dan kalau semua dijual,” sahut Mbah Radi tenang, “anakmu kelak akan pulang ke mana?”
Suara hening.
Di sisi lain ruangan, Damar berdiri perlahan. Napasnya berat, tapi sorot matanya tajam.
“Kita semua tahu apa yang sedang kita hadapi. Tapi kita juga tahu, tidak semua harga bisa ditukar. Kita bukan menolak perubahan—kita hanya ingin memastikan bahwa yang berubah tidak melukai yang penting.”
Beberapa menunduk. Beberapa gelisah. Tapi satu dua mulai mengangguk.
Sepulang dari rapat, Aisha dan Damar berjalan tanpa banyak bicara. Hujan menyusul mereka dari belakang, gerimis awal yang berubah menjadi deras saat mereka memasuki pekarangan.
Malam itu, saat listrik padam, mereka duduk di teras dengan hanya satu lampu minyak menyala.
Aisha bersandar di bahu suaminya. “Apa kau yakin kita bisa melindungi semuanya?”
Damar menatap langit yang gelap tanpa bintang. “Tidak. Tapi kita bisa mulai dari menjaga satu hal yang belum hancur.”
Di kejauhan, suara kodok bersahutan lagi. Tapi kali ini, bunyinya terdengar seperti isyarat: bahwa badai belum selesai—tapi hati yang tetap bertahan bisa menjadi tembok terakhir.
Hujan tak juga reda. Malam semakin sering diiringi suara angin yang menggoyangkan atap-atap rumah, membawa kesunyian yang terasa lebih berat dari biasanya. Di sudut desa, beberapa rumah mulai gelap lebih cepat. Ada keluarga yang tak lagi bersedia ikut rapat warga. Ada yang diam-diam mengemas barang dan mengirim pesan ke saudara di kota, mencari tempat baru sebelum semuanya berubah.
Aisha merasakannya. Ia melihatnya dalam cara warung Bu Mariyah tak lagi ramai di sore hari, dalam bagaimana Pak Juwari berjalan lebih cepat seakan tak ingin bertemu siapa pun. Ketegangan itu bukan lagi bisik-bisik, tapi sudah menjadi bayangan nyata di antara mereka.
Damar mulai menghadapi ujian terbesarnya. Rapat kelompok tani yang semula penuh semangat berubah menjadi adu argumen yang semakin sengit. Beberapa petani merasa mempertahankan tanah hanya akan membuat mereka semakin miskin, sementara yang lain berkeras bahwa menjual sawah adalah menggadaikan sejarah mereka.
“Aku tak mau anakku hidup seperti aku, setiap hari bergantung pada hujan dan harga gabah!” seru seorang bapak muda.
“Tapi kalau tanah ini hilang, mereka hanya akan jadi pekerja di tanah orang lain!” jawab Pak Lurah Harjo, suaranya menggema di ruangan yang makin panas.
Damar berusaha menengahi, tetapi ia tahu bahwa kata-kata saja tak lagi cukup. Semakin banyak yang mulai mempertanyakan apakah semua ini layak diperjuangkan.
Aisha merasakannya juga. Suatu sore, seorang guru di sekolah mendekatinya dengan wajah penuh keprihatinan.
“Mbak Aisha,” ujar Bu Sari pelan, “beberapa wali murid bilang kalau cara Mbak mengajar mulai terasa seperti menghasut.”
Aisha terdiam. “Menghasut?”
“Mereka bilang kau terlalu banyak bicara tentang desa, tentang tanah, tentang bertahan. Mereka takut anak-anak ikut-ikutan dan mulai berpikir bahwa perubahan itu buruk.”
Aisha menggigit bibirnya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia hanya ingin mereka mengerti nilai rumah mereka, bahwa ia ingin anak-anak memiliki pilihan—bukan hanya menerima keputusan yang dibuat tanpa suara mereka. Tapi ia tahu, dunia tidak selalu memberi ruang bagi yang ingin menjaga sesuatu.
Malamnya, saat ia dan Damar duduk di beranda, hujan turun lebih deras. Mereka tak lagi bicara tentang rencana, hanya menikmati kebersamaan yang terasa lebih berharga setiap harinya.
“Apa kau takut?” tanya Aisha tiba-tiba.
Damar menghela napas panjang. “Takut kehilangan desa ini? Takut kita kalah? Ya.”
Aisha menatap suaminya. “Kalau begitu, kita harus melakukan sesuatu sebelum benar-benar terlambat.”
Desa semakin terpecah. Di satu sisi, ada yang memilih bertahan, meyakinkan diri bahwa Jatisari tidak boleh dijual. Di sisi lain, ada yang mulai melihat tanah mereka sebagai sebuah angka, sebuah harga yang cukup untuk membuka pintu kehidupan baru di kota.
Damar mulai merasakan tekanan yang lebih nyata. Suatu siang, di tepi sawah, seorang pria berpakaian rapi datang menghampirinya.
“Kang Damar, saya dengar masih bertahan,” pria itu berkata dengan senyum ramah tapi dingin. “Saya ingin menawarkan sesuatu yang bisa menguntungkan semua pihak.”
Damar menatapnya tanpa ekspresi. “Tanah ini bukan sekadar angka di kertas.”
Pria itu menghela napas pendek, lalu membuka map cokelat di tangannya. “Lihat ini, Kang. Kalau ikut bergabung, bukan hanya tanah panjenengan yang dihargai tinggi, tapi panjenengan bisa jadi bagian dari tim pengelola. Ada gaji tetap, ada posisi. Tidak perlu repot-repot menunggu hujan untuk panen.”
Damar mengambil napas dalam. Tawaran itu seperti racun yang dicampur dengan madu—manis di awal, mematikan di akhir.
Aisha mulai merasakan tekanan serupa. Di sekolah, wali murid semakin sering berbisik tentang cara mengajarnya. Ada yang menganggapnya terlalu keras kepala, terlalu romantis tentang desa yang mungkin memang sudah harus berubah.
Suatu siang, ia dipanggil oleh kepala sekolah.
“Mbak Aisha,” ucap Pak Rahmat dengan nada berat, “saya ingin meminta supaya materi ajaran lebih netral. Beberapa wali murid mulai mengeluh bahwa anak-anak mereka terlalu banyak mendengar tentang ‘melindungi desa’ daripada belajar seperti biasa.”
Aisha menggigit bibirnya. “Saya hanya ingin mereka mengerti bahwa mereka punya pilihan. Bahwa desa ini bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.”
Pak Rahmat menghela napas panjang. “Saya mengerti, tapi kita harus berhati-hati. Ada banyak mata yang memperhatikan, dan tidak semua suka dengan apa yang Mbak lakukan.”
Di rumah, malam itu, Aisha dan Damar saling bercerita tentang tekanan yang mereka hadapi. Hujan turun lebih deras, hampir seperti peringatan dari langit.
“Aku tidak akan menyerah,” ucap Aisha lirih. “Aku tahu mereka mencoba menggiring kita supaya diam. Tapi kalau kita diam, Jatisari akan hilang begitu saja.”
Damar menatapnya, lalu meraih tangannya. “Kalau begitu, kita akan berjuang lebih keras.”
Besoknya, tanpa banyak bicara, mereka mulai mengumpulkan warga yang masih ingin bertahan. Mereka tahu ini akan sulit, mereka tahu tekanan semakin besar. Tapi mereka juga tahu satu hal: jika mereka menyerah, pelangi yang pernah muncul di langit Jatisari mungkin tak akan pernah kembali.
Hari-hari berlalu dengan ketegangan yang semakin nyata. Warga yang bertahan mulai bergerak, sementara yang menyerah mulai berdiam atau berpindah. Jatisari tidak lagi sekadar desa kecil di antara sawah dan lembah, tetapi menjadi panggung bagi persimpangan besar: bertahan atau berubah, merawat atau menyerahkan.
Di warung Bu Mariyah, perbincangan semakin tajam.
“Kami bukan menolak pembangunan,” ujar Pak Slamet, salah satu petani senior, “kami hanya ingin memastikan kalau kita tidak jadi tamu di rumah sendiri.”
“Tapi kalau kita terus seperti ini, bagaimana masa depan anak-anak kita?” sahut seorang bapak lain, matanya penuh kekhawatiran.
Aisha memperhatikan percakapan itu dengan hati yang semakin gelisah. Ia tahu, ketakutan mereka bukan tanpa alasan. Kota terus membesar, dunia terus bergerak maju. Tetapi apakah maju selalu berarti meninggalkan akar?
Di rumah, malam itu, ia dan Damar duduk lama tanpa kata. Hujan turun pelan, tetapi udara terasa berat.
“Aku punya ide,” ujar Aisha tiba-tiba.
Damar menatapnya. “Apa?”
“Aku ingin mengadakan pertemuan dengan anak-anak muda. Mereka adalah masa depan desa ini. Jika kita ingin mempertahankan Jatisari, kita harus membuat mereka merasa bahwa tinggal di sini bukan sekadar pilihan terakhir, tetapi sesuatu yang layak diperjuangkan.”
Damar terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Itu bisa berhasil.”
Dan mereka mulai bergerak.
Sabtu berikutnya, mereka menggelar diskusi kecil di balai desa. Beberapa pemuda datang dengan wajah skeptis, sebagian bahkan mengaku sudah menyiapkan rencana pindah ke kota dalam waktu dekat.
Aisha berbicara dengan hati-hati. “Aku ingin kalian berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan di masa depan. Apa yang membuat kalian ingin pergi? Apa yang membuat kalian ingin bertahan?”
Damar menambahkan, “Kalau kalian pergi, kalian mungkin akan menemukan kehidupan yang lebih mudah. Tapi kalau kalian bertahan, kalian bisa menjadi orang-orang yang mengubah desa ini tanpa harus menjualnya.”
Suasana hening.
Seorang pemuda, Aldi, mengangkat tangan. “Tapi bagaimana kita bisa mengubah desa kalau yang punya kuasa adalah mereka yang membawa uang?”
Aisha tersenyum tipis. “Mungkin kita tidak bisa mengubah semuanya dalam semalam. Tapi kita bisa memulai sesuatu yang bisa membuat kita tetap memiliki suara.”
Dan hari itu, benih lain mulai ditanam.
Tiga hari setelah pertemuan pemuda di balai desa, Aisha mendapat pesan singkat di pintu sekolah: _“Berhenti mencampuri urusan orang lain. Ini bukan kotamu. Pergilah sebelum semuanya rusak.”_
Tulisannya digores dengan arang di selembar kardus bekas. Hurufnya tidak rapi, tapi maknanya tajam—cukup untuk membuat tangan Aisha gemetar saat membacanya.
Ia tidak menangis. Ia tahu ketika angin mulai bertiup kencang, pohon yang berdiri tegak akan lebih mudah diterpa. Tapi malam itu ia tidur lebih gelisah dari biasanya.
Damar melihatnya terdiam di dapur, menatap api yang redup. “Jangan takut,” katanya pelan. “Kalau mereka mulai takut pada suaramu, artinya kamu benar-benar didengar.”
Aisha tersenyum tipis. “Tapi rasanya seperti berjalan di tengah badai, tanpa tahu kapan petir menyambar.”
Minggu itu, mereka kembali menggelar diskusi—kali ini di halaman belakang rumah Pak Slamet. Lebih banyak orang datang: pemuda, ibu-ibu muda, bahkan beberapa bapak yang biasanya apatis kini ikut duduk di tikar pandan.
Topiknya semakin serius. Mereka mulai mendiskusikan strategi mempertahankan hak atas tanah, mencari tahu tentang hukum agraria, bahkan berniat menghubungi jaringan komunitas petani di luar desa.
“Kalau mereka bisa menyewa pengacara,” ucap Aldi, salah satu pemuda yang kini semakin vokal, “kenapa kita tidak bisa menyewa kebenaran?”
Suara itu disambut gumam setuju.
Tapi tak semua senang. Keesokan harinya, papan informasi desa dipenuhi pamflet baru dari pihak perusahaan: janji beasiswa, pembangunan masjid, bahkan tawaran pekerjaan untuk pemuda.
Suara-suara sumbang kembali terdengar. “Kalau bisa dapat semuanya tanpa ribut, kenapa harus melawan?”
Damar hanya menanggapi dengan satu kalimat, penuh keyakinan: “Karena kalau kita diam hari ini, anak-anak kita yang akan menggugat kita nanti.”
Dan begitu, di tengah hujan yang belum juga reda, sebuah gerakan kecil mulai menemukan bentuknya—rapuh, tapi tumbuh.
Malam itu, suara hujan seolah menjadi latar dari sebuah ketegangan yang sulit dijelaskan. Angin menelusup ke celah-celah jendela rumah, membawa aroma tanah yang basah dan dingin yang menggigit. Aisha duduk di sudut kamar, menatap dinding yang diterangi cahaya lampu minyak.
Di meja dapur, Damar menghela napas panjang. “Besok kita harus bicara dengan Pak Lurah lagi. Aku dengar beberapa warga mulai marah karena kita masih bertahan.”
Aisha menegakkan punggungnya. “Marah?”
Damar mengangguk. “Mereka bilang kita menghambat pembangunan. Ada yang mulai percaya kalau kita hanya keras kepala, bukan karena ingin mempertahankan sesuatu.”
Kesunyian menggantung di antara mereka. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada ancaman, karena Aisha tahu: semakin lama mereka bertahan, semakin banyak yang merasa mereka hanya menunda sesuatu yang tak bisa dicegah.
Pagi itu, mereka berjalan menuju pendapa desa dengan perasaan berat. Beberapa warga menyapa mereka dingin, sementara yang lain menundukkan kepala seolah tidak ingin berbicara.
Di balai desa, pertemuan resmi digelar. Kali ini bukan hanya diskusi biasa. Ada kepala desa, perwakilan dari perusahaan, bahkan seorang pria berseragam yang duduk di sudut dengan tangan terlipat.
Pak Lurah Harjo membuka pertemuan dengan suara yang berat. “Kita sudah melalui banyak perdebatan. Tapi hari ini, kita harus membuat keputusan.”
Seorang pria dari pihak perusahaan berdiri, suaranya penuh keyakinan. “Kami sudah menyiapkan kompensasi untuk semua warga. Kami ingin memastikan bahwa tidak ada yang dirugikan.”
Lalu suara lain menyusul. Kali ini dari seorang bapak yang biasanya jarang berbicara. “Kita sudah lama hidup begini. Mungkin memang waktunya berubah.”
Suasana ruangan semakin panas.
Aisha merasakan napasnya menjadi pendek. Ia tahu ini adalah saatnya berbicara, meski risikonya besar. Ia melangkah maju.
“Saya tahu pembangunan itu penting. Saya tahu bahwa dunia terus bergerak maju.” Suaranya terdengar jelas di ruangan yang mulai sunyi. “Tapi yang saya tanyakan adalah: kalau semua ini hilang, apa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita? Apakah mereka akan kembali ke desa ini, atau hanya mengingatnya sebagai sesuatu yang dulu ada?”
Beberapa orang mulai menggumam pelan.
Damar menambahkan, “Kami tidak ingin menolak perubahan. Kami hanya ingin memastikan bahwa perubahan itu tidak membuat kita kehilangan diri kita sendiri.”
Pak Lurah terdiam lama. Perwakilan perusahaan terlihat tidak nyaman.
Malam itu, setelah pertemuan usai, Aisha dan Damar berjalan pulang dengan langkah berat. Tidak ada kemenangan, hanya ketidakpastian yang semakin nyata.
Hujan turun pelan. Dan seperti yang dikatakan Damar sebelumnya—pelangi tidak akan muncul jika langit selalu cerah.
Posting Komentar