Table of Contents
Pelangi Di Jatisari
Oleh: TintaHadi
Dipersembahkan oleh: SinergiBost
*Bab 1: Di Antara Lembah dan Langit*
Desa Jatisari tidak pernah terburu-buru. Waktu di sana berputar dalam irama musim, bukan dalam denting jam.
Aisha menatap hamparan sawah dari beranda rumahnya. Embun masih menggelayut di ujung daun padi, memantulkan cahaya pagi seperti butiran perak yang disebar di permukaan bumi. Udara pagi menyelusup ke kulitnya, dingin namun membawa ketenangan. Sudah tiga bulan sejak ia meninggalkan segala kebisingan kota untuk tinggal di sini bersama Damar—lelaki yang kini menjadi suaminya.
Di Jatisari, ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk yang ia kenal. Tidak ada suara klakson yang memaksa orang untuk bergegas, tidak ada aroma kopi dari kedai mewah, tidak ada gedung menjulang yang menutupi langit. Yang ada hanyalah kesederhanaan yang hadir tanpa pamrih.
Sawah yang berganti warna seiring musim, suara ayam jantan yang menjadi alarm tanpa perlu disetel, dan bunyi lesung dari dapur-dapur kayu yang menumbuk pagi dengan irama yang konstan.
Namun, ada momen-momen tertentu di mana Aisha merasakan kerinduan menyelinap masuk. Kerinduan akan lampu kota yang selalu menyala, obrolan cepat dengan teman-temannya di kafe, jalanan yang ramai dengan langkah-langkah orang yang seolah tahu tujuan mereka. Di sini, semuanya terasa lebih lambat, lebih sunyi, dan dalam kesunyian itu, Aisha terkadang merasa seperti orang asing di dunia yang baru.
Damar, lelaki yang telah membawanya ke kehidupan ini, bukan sosok yang gemar berbicara panjang lebar. Tapi ada ketenangan dalam caranya bekerja, dalam senyumnya yang tidak dibuat-buat, dalam sorot matanya yang selalu berisi kepastian bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja.
Ia tak pernah memaksa Aisha untuk segera beradaptasi, ia hanya memberinya ruang untuk merasa, untuk menemukan tempatnya sendiri.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Damar sudah berada di sawah, tangannya menguliti tanah, menabur benih, memastikan bahwa kehidupan terus berjalan seperti seharusnya.
Aisha sering mengamati dari kejauhan, bertanya-tanya dalam hati: bagaimana seseorang bisa begitu nyaman dengan ritme yang berulang setiap hari?
Pagi itu, Aisha memutuskan berjalan kaki menuju warung Bu Mariyah, satu-satunya tempat di desa yang menjual kebutuhan harian dari sabun batang sampai cabai keriting. Jalan setapak dari rumahnya masih becek sisa hujan malam tadi. Ia menggulung ujung rok panjangnya agar tak terseret lumpur, sembari sesekali tersenyum kikuk kepada warga desa yang melintas dan mengangguk ramah.
“Sudah mulai betah, Mbak Aisha?” sapa Pak Slamet, lelaki sepuh yang duduk di bangku bambu sambil menganyam kurungan ayam.
Aisha mengangguk cepat, lalu membalas dengan sopan, “Sedang belajar betah, Pak.”
Pak Slamet tergelak pelan. “Kalau sudah tahan dengan nyamuk sawah dan lampu mati mendadak, berarti sudah separuh orang Jatisari.”
Sesampainya di warung, ia disambut aroma kayu manis dan tawa riuh ibu-ibu yang sedang menumbuk bumbu. Bu Mariyah, yang ramah dan cerewet seperti cuaca bulan April, langsung mengulurkan tangan dan merangkul pundak Aisha.
“Lho, Mbak Aisha! Tumben ke sini sendirian! Damar ke sawah, ya?”
“Iya, Bu. Saya mau beli gula aren sama minyak goreng.”
“Kebetulan! Gula aren baru datang dari Kampung Sebrang, masih hangat. Nih, cicipi,” ucapnya sambil menyodorkan irisan kecil seperti membagi emas.
Aisha tersenyum, menerima potongan manis itu, dan untuk pertama kalinya merasa tidak seperti tamu. Ia mulai merasa menjadi bagian dari sesuatu yang hangat, meski masih baru disentuh permukaannya.
Di perjalanan pulang, seekor anak kambing kecil menyelusup dari semak dan mengendus ujung kakinya. Ia menjerit kecil lalu tertawa geli saat kambing itu mengekorinya sampai depan pagar rumah.
Dari kejauhan, Damar memperhatikannya sambil menyandarkan cangkul di pundak. Ada senyum bangga yang tersembunyi di balik peluhnya. Bukan karena Aisha telah pandai berbelanja ke warung, tapi karena ia melihat istrinya mulai menyentuh tanah ini bukan hanya dengan kaki—tetapi juga dengan hati.
Hari pernikahan mereka masih terpatri dalam ingatan. Tidak ada dekorasi mewah, hanya lantunan gamelan bambu dan kirab kecil menuju pendapa desa. Tak ada lampu gemerlap, tapi langit menghadiahkan mereka pelangi yang membentang setelah gerimis. Seolah-olah semesta ingin berkata bahwa cinta mereka akan seperti itu—sesuatu yang muncul setelah hujan, sesuatu yang indah karena telah melalui badai.
Kini, di tengah kehidupan barunya, Aisha bertanya dalam hati: apakah ia benar-benar telah menemukan rumahnya di sini? Ataukah ia masih mencari sesuatu yang belum ia temukan?
Posting Komentar