Table of Contents
*Pelangi di Langit Jatisari*
*Bab 2: Benih-Benih yang Bertumbuh*
Musim tanam kembali datang, membawa aroma tanah basah dan kesibukan yang menggairahkan di Jatisari. Di pagi yang masih berembun, suara lesung terdengar dari beberapa dapur, menemani ayam jantan yang berkokok memanggil hari. Damar bangun lebih pagi dari biasanya, menarik napas dalam sebelum mengambil cangkul yang bersandar di dinding bambu rumah mereka. Di matanya, ada semangat baru—bukan hanya soal padi, tapi juga tentang harapan.
Aisha mulai menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan desa. Ia tidak lagi terbangun oleh dering alarm ponselnya, melainkan oleh suara gemerisik daun pisang yang bergoyang dihempas angin. Setiap pagi, ia berjalan ke sumur di belakang rumah untuk menimba air. Pada awalnya, ia kesulitan mengangkat timba tanpa menumpahkan separuh isinya, tapi sekarang tangan dan langkahnya sudah lebih lihai.
Di dapur, ia mulai memahami ritme pagi yang selalu sama: suara kayu terbakar, aroma kopi yang mendidih di tungku tanah, serta kehangatan yang muncul dari kebiasaan sederhana. Perlahan, Aisha tidak hanya mengamati kehidupan desa, tetapi mulai menjadi bagian dari alurnya.
Sementara itu, Damar semakin aktif dalam program pertanian ramah lingkungan. Bersama beberapa pemuda desa, ia mulai menguji teknik _pertanian organik terpadu_, mengolah limbah ternak dan sampah dapur menjadi kompos. Setiap sore, tangan mereka menghitam karena tanah, tetapi di antara kelelahan, ada optimisme yang tumbuh perlahan.
Namun, tantangan mulai muncul. Sebuah perusahaan besar datang ke desa, membawa janji pembangunan dan uang ganti rugi yang menggiurkan. Mereka ingin membangun resort di lahan sawah, katanya untuk “memajukan potensi wisata desa.” Sebagian warga mulai bimbang. Mereka memandang rumah-rumah berdinding bambu dan jalan setapak yang becek setelah hujan—mereka mulai merasa desa ini terlalu sederhana untuk masa depan anak-anak mereka. Tapi Damar, dan sebagian warga lain, mencium bau tipu-tipu dari proposal yang terlalu muluk.
Di balai desa, Aisha mulai mengenali kecemasan yang muncul di wajah para orang tua. Mereka menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak mereka, kesempatan yang lebih luas daripada sekadar mengurus sawah seperti generasi sebelumnya.
Suatu malam, usai hujan turun pelan, Aisha duduk bersama Damar di beranda rumah. Angin membawa bau basah dari ladang. Di kejauhan, suara kodok bersahutan, menjadi latar bagi percakapan mereka.
“Apa menurutmu kita harus melawan mereka?” tanya Aisha, mengamati langit yang masih kelabu.
Damar tidak langsung menjawab. Ia menatap jauh ke cakrawala, lalu tersenyum tipis. “Kadang, kita tidak harus melawan. Kita hanya perlu menunjukkan bahwa kita punya sesuatu yang layak dipertahankan.”
Dan benih itu pun mulai bertumbuh—bukan hanya di tanah sawah, tetapi juga dalam hati mereka.
Keesokan harinya, suasana balai desa terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa kepala keluarga berkumpul, duduk bersila di lantai kayu sambil menyesap kopi yang diseduh oleh istri-istri mereka di dapur belakang. Di depan mereka, seorang pria berjas biru tua berbicara dengan suara penuh janji. Ia mewakili perusahaan investasi yang hendak membangun resort wisata di bukit atas Jatisari—tempat para petani selama puluhan tahun menanam jagung dan ketela.
“Coba bayangkan,” kata pria itu sambil tersenyum lebar, “anak-anak panjenengan semua bisa kerja di hotel, belajar pariwisata, dapat penghasilan tetap. Jalan akan kami aspal, sinyal internet akan kami bangun, bahkan sekolah bisa kami bantu renovasi.”
Sebagian warga mengangguk-angguk, terutama yang masih muda. Namun, wajah-wajah seperti Pak Lurah Harjo dan Mbah Radi tetap tenang, tak menampakkan keterpesonaan. Di pojok ruangan, Damar menyimak dengan mata tajam. Ia tahu betul bahwa janji seperti ini tidak selalu seindah yang terdengar.
Malamnya, Damar menceritakan pertemuan itu pada Aisha. Mereka duduk berdua di dapur, hanya diterangi lampu minyak karena listrik padam setelah hujan petang.
“Mereka pintar memilih kata,” gumamnya sambil mengaduk air jahe. “Mereka tahu yang lapar akan tergoda pada roti, meski tidak tahu tepungnya berasal dari mana.”
Aisha mengangguk pelan. Ia mengingat wajah-wajah anak-anak yang ia ajar, dan mendadak merasa gelisah. Betapa tipis jarak antara impian dan kepentingan. Bagaimana jika keindahan Jatisari dikorbankan untuk sesuatu yang hanya akan dinikmati sementara?
Keesokan paginya, ia memutuskan untuk berbicara dengan Bu Mariyah di warung. Di sela-sela menimbang gula dan menata cabai rawit, Aisha bertanya, “Bu, kalau perusahaan itu jadi masuk, apakah Ibu setuju?”
Bu Mariyah terdiam sejenak, lalu menatap Aisha dalam-dalam. “Saya ini cuma pedagang kecil, Mbak. Kalau jalan jadi aspal dan orang-orang kota mulai datang, saya pasti senang. Tapi… saya juga takut, kalau anak cucu saya nanti cuma jadi penonton di tanah sendiri.”
Posting Komentar