Table of Contents
Bab 9: 🌈 Pelangi di Jatisari
Sejak dini hari, hujan deras mengguyur Jatisari. Jalanan desa berubah menjadi lumpur, suara air menetes dari atap rumah kayu, dan aroma tanah basah memenuhi udara. Kabut tipis bergelayut di antara pepohonan, membuat suasana muram. Desa itu seakan menahan napas, menunggu sesuatu yang belum pasti.
Di sawah, genangan air memantulkan langit kelabu. Anak-anak yang biasanya berlarian di jalan desa kini berdiam di rumah, menatap hujan dari balik jendela. Suara ayam berkokok terdengar sayup, seolah enggan membangunkan desa yang sedang gelisah.
Di rumah keluarga Aisha, ketegangan memuncak. Pak Rahman, ayahnya, duduk di kursi tua dengan wajah muram. Tangannya menggenggam rokok yang tak pernah dinyalakan, hanya diputar-putar di jari.
“Aisha, kau harus berhenti ikut campur,” katanya dengan nada tajam. “Perusahaan itu bisa memberi kita kehidupan lebih baik. Jangan bodoh menolak rezeki.”
Aisha menunduk, hatinya bergetar. Damar, suaminya, meraih tangannya, memberi kekuatan. “Ayah, kami tidak melawan demi keras kepala. Kami melawan demi menjaga rumah kita. Kalau semua dijual, apa yang tersisa untuk anak cucu?”
Pak Rahman menatap mereka dengan mata penuh amarah bercampur ragu. “Kalian bicara idealis. Tapi kenyataan tidak bisa ditolak. Orang-orang sudah menerima amplop. Kau pikir bisa menghentikan arus besar itu?”
Malamnya, Aisha menangis di pelukan Damar. “Kadang keluarga sendiri menjadi badai yang paling sulit dihadapi,” bisiknya.
Damar mengusap rambutnya lembut. “Tapi badai juga membawa pelangi, jika kita berani menunggu.”
Aisha menulis di buku catatannya:
“Kadang suara kita kecil, tapi ia lahir dari kejujuran. Dan kejujuran, meski dicoba padamkan, akan tetap mencari jalan untuk bersinar.”
Keesokan harinya, kabar mengejutkan datang. Perusahaan mengumumkan bahwa sebagian warga telah menandatangani persetujuan pelepasan tanah. Nama Pak Rahman ada di daftar itu.
Aisha terdiam, matanya berkaca-kaca. “Ayah… kau benar-benar menyerahkan tanah kita?”
Pak Rahman menunduk, suaranya bergetar. “Aku hanya ingin kau hidup lebih mudah. Aku lelah melihatmu berjuang melawan sesuatu yang terlalu besar.”
Kenyataan itu menghantam Aisha dan Damar seperti petir. Orang yang paling mereka harapkan berdiri di sisi mereka, justru memilih menyerah.
Namun di tengah lukad itu, sebuah keajaiban kecil terjadi. Warga yang sebelumnya diam mulai bersuara. Mereka melihat keberanian pasangan muda itu. Mereka mulai menolak amplop, menandatangani petisi tandingan.
Di balai desa, suara-suara yang dulu terpecah kini bersatu.
“Kita tidak bisa menjual masa depan anak-anak kita,” kata seorang bapak tua dengan mata berkaca.
Bu Mariyah menambahkan lantang, “Kalau tanah ini hilang, kita bukan lagi Jatisari. Kita hanya jadi tamu di kampung sendiri.”
Suasana berubah. Warga yang sebelumnya diam mulai bersuara. Bahkan beberapa yang sudah menerima uang mengembalikannya, dengan wajah penuh penyesalan.
Pak Rahman datang terlambat. Ia berdiri di pintu balai desa, melihat putrinya dan menantunya berbicara dengan penuh keyakinan. Air matanya jatuh tanpa disadari. Ia sadar, mungkin selama ini ia terlalu takut menghadapi badai.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin melindungi kalian. Tapi aku lupa, kadang anaklah yang bisa melindungi orang tuanya,” ucapnya lirih.
Aisha memeluk ayahnya erat, Damar ikut merangkul. “Ayah, kita tidak terlambat. Pelangi ini bukti, bahwa warna kita masih bisa dijaga.”
Hari-hari berikutnya, desa mulai berubah. Warga yang dulu terpecah kini saling menyapa dengan senyum. Anak-anak kembali bermain di jalan desa. Warung Bu Mariyah ramai dengan obrolan penuh semangat.
Aldi, pemuda desa, berkata lantang, “Kita mungkin kecil, tapi suara kita bisa besar kalau kita bersatu.”
Aisha menatap Damar dengan mata berbinar. “Dam, aku merasa kita sedang menulis sejarah kecil di desa ini.”
Damar tersenyum. “Sejarah yang lahir dari keberanian.”
🌈 Dan ketika hujan reda, langit Jatisari memunculkan pelangi. Warnanya membentang indah di atas sawah yang masih basah. Aisha menatapnya dengan air mata bercampur senyum.
“Pelangi itu tanda, Dam,” bisiknya.
Damar menggenggam tangannya erat. “Tanda bahwa badai sudah kita lewati. Dan warna kita… tetap ada.”
Pak Rahman mendekat, suaranya lirih. “Maafkan aku. Aku hanya ingin melindungi kalian. Tapi aku lupa, kadang anaklah yang bisa melindungi orang tuanya.”
Aisha memeluk ayahnya erat, Damar ikut merangkul. “Ayah, kita tidak terlambat. Pelangi ini bukti, bahwa warna kita masih bisa dijaga.”
🌿 Namun tepat ketika pelangi itu perlahan memudar, suara deru mesin terdengar dari kejauhan. Truk-truk besar dengan logo perusahaan memasuki jalan desa, ban-ban mereka meninggalkan jejak lumpur di tanah Jatisari. Warga yang baru saja bersatu saling berpandangan, wajah mereka kembali tegang.
Aisha menggenggam tangan Damar lebih kuat. “Dam… sepertinya badai belum benar-benar pergi.”
Damar menatap lurus ke arah truk-truk itu, matanya menyala dengan tekad. “Kalau begitu, kita harus siap. Karena pelangi ini… baru permulaan.”
Posting Komentar